Suruh siapa kasih libur terlalu lama. Seperti biasa, jiwa backpacker saya berontak. Bersenjatakan kamera dan sepeda motor, saya menyepi ke sebuah desa yang (nampaknya) tak terkena dampak arus mudik. Hening dan beku. Terselip pada ketinggian 1400 meter di atas permukaan laut.

Candi Ceto pastilah belum sefenomenal Candi Prambanan, sejawat Hindu-nya. Namun bicara soal urat petualangan, Candi Ceto boleh dibilang selevel lebih menjanjikan. Pada catatan ini saya akan berkisah tentang langkah saya menapaki Candi Ceto. Siapa tahu, anda kelak juga berkesempatan untuk berkunjung ke sana.


[baca selengkapnya]

Kategori: Activity | Review | Travel
 

Bicara soal masakan Jepang, kita mengenal banyak hidangan populer. Katakanlah teriyaki, katsu don, atau yakiniku. Namun tentu saja masih terdapat menu-menu lain yang, dengan alasan yang bisa saya tebak, tidak tersedia di Indonesia. Ini adalah dua di antaranya.

Bayangkan anda sedang tur di Jepang. Suatu malam perut anda keroncongan dan terpaksa keluar dari hotel untuk mencari makan. Di sebuah warung, anda dihadapkan pada menu hidangan yang namanya belum pernah anda dengar. Terdorong rasa lapar dan ingin tahu, anda memesan salah satu menu : "Ikizukuri!" dan the rest is nightmare.


[baca selengkapnya]

Hawa dingin sukses membujuk saya untuk merapatkan jaket sebatas dagu. Bukanlah tanpa alasan apabila pada pagi-pagi buta saya harus stand-by di stasiun. Terlambat lima belas menit, kereta api ekspres Lodaya akhirnya tiba; mengantar keluarga saya dari Solo.

"Aston! Braga…". Instruksi singkat itu pun diiyakan oleh sopir taksi yang langsung membawa kami berlima menyusuri jalan berkabut. Kurang dari sepuluh menit, kami sudah tiba di pelataran Hotel Aston Bandung. Dua orang bellboy tersenyum ramah membantu membawakan travel bag. Lokasi strategis yang dekat dengan stasiun adalah salah satu alasan kami tertarik pada hotel ini.


[baca selengkapnya]

Kategori: Activity | Review | Travel
 

Orang Latin mengenal istilah homo ludens. Artinya, manusia adalah makhluk bermain. Siapa yang tidak kenal sepakbola. Permainan dari Romawi yang kemudian distandarisasi orang Inggris. Boleh jadi tidak ada permainan lain yang bisa diadu popularitas dan prestise-nya.

Demi menyaksikan duel raja Inggris, Manchester United, melawan jawara Italia, Inter Milan, saya pun bela-belain nonton bareng jam dua pagi di MU Cafe, Paris van Java. Dengan harapan nantinya Manchester United meraih kemenangan, saya sudah stand-by di sana sejak pukul 01.00 bersama seorang teman. Mau tahu nuansanya?


[baca selengkapnya]

Semasa sekolah dulu pernah ada lelucon celetukan guru saya. Siswa yang nilainya kurang silakan mendaftarkan diri di UGM cabang Wonogiri, alias Universitas Gajah Mungkur. Lelucon itu agaknya bernada melecehkan apabila kita lihat dari konteksnya.

Saya bilang melecehkan karena Gajah Mungkur adalah area yang terletak di Gunung Seribu, yaitu wilayah pegunungan cadas yang (dulunya) tandus dan melarat. Daerah kering tersebut dikelilingi oleh bukit-bukit kapur yang susah ditanami. Pemerintah Orde Baru pun memutuskan turun tangan untuk membangun danau buatan seluas 9000 hektar di wilayah tersebut pada tahun 1978.


[baca selengkapnya]

Kategori: Travel