Bulan ini mulai menulis lumayan telat. Maklum gara-gara router rusak, akses internet jadi susah dan merepotkan. Usut punya usut, router tua tersebut memang sudah masanya dipensiunkan. Tak ayal kami pun merogoh kocek untuk membeli yang baru.

Menilik tradisi, saya terbiasa membuat posting seperti ini setiap bulan. Namun berhubung masalah tadi, saya baru sempat mempublikasikannya di tanggal tua. Beberapa pemikiran berikut ini ditulis hanya beberapa saat seusai saya mengikuti event Pesta Blogger 2009 di Jakarta. Inilah hasil dari serpih-serpih pemikiran dangkal untuk bulan Oktober.
Praktis bulan September ini saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Pekerjaan tercecer itu jadi urusan nanti. Ceceran biasanya berekor pada gerutuan teman-teman. Biarlah. Asal bukan sumpah serapah yang jadi ekornya.

Tidak terasa sudah bulan kesembilan. Kata guru SD ini adalah pintu menuju musim hujan. Kali ini mereka tidak salah, sebab baik di Bandung maupun di Solo hujan sudah mulai turun, meski dalam intensitas rendah. Omong-omong soal ikhtisar hidup, tak banyak yang bisa saya bagikan. Namun jatah tetaplah hak pembaca, berikut pelajaran untuk bulan September.
Aldous Huxley, pengarang Brave New World (1931), pernah mengungkapkan ketakutannya akan masa depan. Kemudahan kita menyebarkan informasi di masa depan mampu menyebabkan banjir informasi. Ketika informasi meluap, signifikansi berita menjadi pudar.

Twitter tak ubahnya bom kecil dari ledakan informasi yang diramalkan Huxley. Jangan salah. Saya punya account Twitter juga yang bisa anda ikuti di sini. Terkadang saya masih menggunakannya meskipun sangat jarang. Saat pertama kali mendengar soal Twitter pada pertengahan 2006, saya mengabaikannya. Setidaknya hingga saat ini. Berikut alasan saya.
Awal bulan Agustus ini saya berbicara di hadapan 950 mahasiswa baru IT Telkom. Mahasiswa baru adalah kaum yang kebingungan. Banyak mahasiswa IT Telkom yang diterima di kampus tersebut tanpa maksud menjadikannya sebagai pilihan utama.

Ketika satu pintu kesempatan tertutup, banyak orang yang meratapinya. Banyak orang yang tidak paham bahwa jika satu pintu kesempatan tertutup, maka pasti ada pintu lain yang terbuka. Tidak jarang pintu yang kedua sebenarnya justru membawa mereka ke tempat yang lebih baik. Bicara soal pelajaran hidup yang tiada akhir, berikut ini jatah untuk bulan Agustus.
Bicara soal bulan Juli berarti bicara soal anti-klimaks. Semenjak saya kuliah, periode Maret ke Juni adalah periode paling keras. Dua tahun terakhir bahkan berakhir dengan kekecewaan setelah dua kali berturut-turut terhenti di putaran final tiga besar Imagine Cup Indonesia.

Beberapa bulan terakhir ini saya harus membantu para mahasiswa untuk berjuang di kompetisi nasional, mengajar empat kelas di mata kuliah Desain Analisis Algoritma, melakukan assessment untuk empat belas kelas, mengerjakan dua proyek WAMP, dan ujian akhir semester. Praktis waktu saya terkompres, namun ide tidak pernah habis. Berikut ini pelajaran hidup untuk bulan Juli.
Seiring dengan masa transisi, blog ini menjadi kurang terawat. Mulai hari ini, saya sudah kembali menulis seperti biasa. Targetnya adalah dua tulisan per minggu. Tulisan ini menjadi seri berikut dari pelajaran hidup yang saya peroleh sepanjang bulan Februari 2009.

Dua hari yang lalu saya baru saja menyelesaikan bimbingan tahap satu bagi calon representatif IT Telkom di kompetisi nasional. Ada sekitar 15 tim, atau sekitar 60 orang, yang harus saya tangani bersama dengan Leonardi. Sekarang saatnya melepas tekanan itu, sudah waktunya saya kembali mencurahkan sejumlah pemikiran. Pemikiran dangkal.
Percaya tidak percaya, tak semua orang menganggap pengembangan diri itu baik. Komentar dari seorang teman sempat membuat saya berpikir. Ucapnya, "Ngapain harus susah-susah memasang target ini dan itu? Hidup itu mengalir. Just enjoy your life and be yourself!"

Konflik antara pengembangan diri dan penerimaan diri sekilas terdengar dungu. Namun begitulah kenyataannya. Ini adalah suatu realita yang selama ini bahkan tidak terpikirkan oleh saya. Malam tadi saya mencoba untuk menggali lebih dalam kedua konsep ini. Manakah yang lebih baik antara menerima diri apa adanya dan mengembangkan diri? Bisakah keduanya selaras?
Capek. Setelah melewati UAS, saya terpaksa bolak-balik ke empat kota pada awal tahun ini. Tidak hanya blog ini yang terbengkalai, namun juga aktivitas harian saya. Satu-satunya yang membuat saya cukup terhibur adalah udara Bandung yang belakangan ini lumayan dingin.

Kemarin saya kembali ke Bandung dengan kereta api Turangga. Berangkat dari Jogja pukul satu dini hari, terlambat dua jam. Menemani seorang gadis manis, anak ITB, yang tidur lelap bersandar ke pundak saya setelah kecapekan ngoceh di stasiun. Saya tidak tidur, saya memilih meluangkan waktu untuk baca buku dan menulis sejumlah ide. Pemikiran dangkal. Pemikiran seadanya.
Banyak orang punya harapan dan tujuan. Namun tak semua sanggup mencapainya. Langkah awal yang problematik namun kerap diabaikan adalah metode untuk menentukan target. Banyak target yang didefinisikan secara kurang akurat menyebabkan tujuan menjadi sulit tercapai.

Di dalam Manajemen Proyek ada istilah SMART planning, yaitu : Specific, Manageable, Achievable, Realistic, dan Timely. Hal yang serupa dapat diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari. Di gerbong kereta api Lodaya kemarin sore, saya mencoba merancang sebuah formula baru yang lebih sesuai untuk merancang target pribadi. Saya menyebutnya sebagai rumus PINTAR.
Tepat satu tahun silam saya membawakan sebuah seminar di Universitas Padjadjaran. Acara itu memang tidak ada hubungannya dengan HIV/AIDS. Namun saya ingat benar, pada waktu itu saya diminta tim panitia untuk berbicara dengan mengenakan pita merah.

Pita merah adalah sebuah ungkapan solidaritas terhadap para pengidap HIV/AIDS. Hari ini dunia kembali memperingatinya. Ada berbagai jenis kegiatan yang dilakukan sebagai bentuk partisipasi kita pada Hari AIDS Sedunia ini. Bagi saya, cara paling sederhana untuk berpartisipasi dalam melawan AIDS adalah dengan tidak menjadi salah satu korbannya.




