Roda internet berputar dengan sangat kencang. Kalimat tweet anda sepuluh menit yang lalu sudah masuk kategori old post. Itu baru sepuluh menit. Bagaimana jika sepuluh tahun? Sampah berusia sepuluh tahun di cyberspace tak ayal sudah layak masuk museum purbakala.

Pada tanggal 26 Oktober 2009, Yahoo! resmi menutup service Geocities. Timbunan kenangan saya dan jutaan pengguna internet awal ikut terkubur bersamanya. Bukan masalah apakah anda juga pernah mempunyai kenangan bersama Geocities atau tidak. Tulisan saya kali ini toh tak lebih dari sekedar flashback dan nostalgia.


[baca selengkapnya]

Telepon genggam umumnya bukan produk dalam negeri. Tidak heran apabila banyak kultur lokal yang tidak mampu terakomodasi di dalamnya. Salah satu kasus lazim mungkin adalah phonebook alias daftar nomor telepon dan atribut nama seseorang.

Sebutlah seorang rekanan studi di IT Telkom. Daftar nomor telepon di ponselnya terbilang cukup menarik, walau tidak unik. Apa pasal? Hampir setengah dari nama-nama di sana dibubuhi dengan embel-embel, entah itu Pak, Bu, Prof, atau bahkan Kak. Alhasil pengindeksan yang ada di daftar tersebut pun menjadi semi rancu. Lalu masalahnya?


[baca selengkapnya]

Aldous Huxley, pengarang Brave New World (1931), pernah mengungkapkan ketakutannya akan masa depan. Kemudahan kita menyebarkan informasi di masa depan mampu menyebabkan banjir informasi. Ketika informasi meluap, signifikansi berita menjadi pudar.

Twitter tak ubahnya bom kecil dari ledakan informasi yang diramalkan Huxley. Jangan salah. Saya punya account Twitter juga yang bisa anda ikuti di sini. Terkadang saya masih menggunakannya meskipun sangat jarang. Saat pertama kali mendengar soal Twitter pada pertengahan 2006, saya mengabaikannya. Setidaknya hingga saat ini. Berikut alasan saya.


[baca selengkapnya]

Sebagai seorang mahasiswa IT, saya adalah korban pelecehan visual. Cukup sudah hari-hari saya lewatkan untuk menonton presentasi yang buruk. Benar-benar buruk. Pelakunya bisa dosen, bisa asisten dosen, bisa mahasiswa, bahkan tidak jarang pula pejabat pemerintah!

Tulisan ini saya buat setelah audiens memberikan komentar bahwa slide presentasi saya berbeda dengan yang lain. Begitu menyenangkan untuk diikuti, katanya. Mungkin itu komentar yang terlalu berlebihan, namun setidaknya berarti dia mengakui saya presenter yang baik. Hehe. Nah, kali ini saya akan menulis tentang beberapa kesalahan utama presentasi dengan Powerpoint.


[baca selengkapnya]

Posting ini sekedar kumpulan gambar nostalgia. Ada perkembangan sangat pesat yang tidak kita sadari, yaitu bahwa wajah internet 7 tahun yang lampau (2001) benar-benar jauh berbeda dengan wajah internet kita saat ini.

Seperti apa internet pada tahun 2001? Saat itu saya masih rely on kecepatan koneksi 2-3 KB/s dari SoloNet, Wikipedia baru dibentuk, detikcom masih bi-lingual (Indonesia dan English), desain situs STT Telkom masih kelihatan seperti template Geocities, masih ada Lovemail, Satunet, dan ehm… NgakakDotCom. Sekarang kita lihat saja penampilan ‘masa lalu’ mereka.


[baca selengkapnya]

Informasi tidak selamanya baik. Kelebihan informasi dapat merusak kesehatan kita. Meski saya termasuk orang yang rutin berolahraga, ternyata tetap ada penyakit yang menjangkiti. Dan yang satu ini gara-gara internet! Kali ini saya mau posting santai saja tentang penyakit ini.

Semenjak pindah ke daerah Bandung, saya mendapatkan akses internet via kabel. Tentu saja kecepatannya berbeda dengan dial-up. Jauh lebih cepat. Dahulu saya pengguna Centrin, namun sekarang saya berlangganan servis milik Melsa. Akses internet 24 jam inilah yang menyebabkan saya sebentar-sebentar melakukan search di Google.


[baca selengkapnya]

My first post in English. Yes! Google Chrome Beta is officially available hours ago (it is now 2.20 AM WIB here (19.20 GMT)). I am running on Windows Vista and having give it a try, now I want to write about my first time experience using Chrome.

My thought when I heard about Chrome is : why does we need another browser? There are bunch of browsers out there already. If it is intended to be open-source answer for Microsoft Internet Explorer, again, what’s wrong with Firefox? Honestly, I was also skeptical when they said Chrome is based on Webkit engine, the same engine that is used by Safari. But they prove me wrong.


[baca selengkapnya]

Kategori: Technology | Review