Namanya Harun Yahya. Dia banyak berkutat di bidang kosmologi Islam. Salah satu pandangannya yang paling tersohor adalah penolakan terhadap Teori Evolusi. Buku-bukunya pun didesain sangat bagus dan ringan untuk dibaca. Belum lagi harganya relatif murah.

Ketika buku-buku tadi masuk ke Indonesia sekitar lima tahun yang lalu, saya pikir karyanya akan cepat terabaikan. Namun prediksi saya luput. Tulisan Harun Yahya yang agak tendensius terhadap Teori Evolusi itu ternyata diminati khalayak. Meski beliau bukan ilmuwan, banyak kaum terpelajar di seantero nusantara ini yang mengiyakan tulisan-tulisannya.
Mesin waktu itu tidak akan ada. Itu adalah jawaban saya waktu SD ketika seorang sahabat bertanya apakah di masa depan bakal ada mesin waktu. Mengapa? Sebab andaikan mesin waktu benar-benar ada, seharusnya saat ini kita sudah bertemu dengan orang-orang dari masa depan.

Namun ternyata masalahnya tidak sesederhana itu. Terlepas dari akan ada atau tidaknya mesin waktu, terdapat paradoks yang cukup menggairahkan untuk dibahas. Soal mesin waktu sendiri tentunya kita sudah tidak asing, sebab ada banyak film yang mengisahkan keberadaannya seperti Back to The Future, Doraemon, dan Quantum Leap.




