Namanya Harun Yahya. Dia banyak berkutat di bidang kosmologi Islam. Salah satu pandangannya yang paling tersohor adalah penolakan terhadap Teori Evolusi. Buku-bukunya pun didesain sangat bagus dan ringan untuk dibaca. Belum lagi harganya relatif murah.

Ketika buku-buku tadi masuk ke Indonesia sekitar lima tahun yang lalu, saya pikir karyanya akan cepat terabaikan. Namun prediksi saya luput. Tulisan Harun Yahya yang agak tendensius terhadap Teori Evolusi itu ternyata diminati khalayak. Meski beliau bukan ilmuwan, banyak kaum terpelajar di seantero nusantara ini yang mengiyakan tulisan-tulisannya.
Roda internet berputar dengan sangat kencang. Kalimat tweet anda sepuluh menit yang lalu sudah masuk kategori old post. Itu baru sepuluh menit. Bagaimana jika sepuluh tahun? Sampah berusia sepuluh tahun di cyberspace tak ayal sudah layak masuk museum purbakala.

Pada tanggal 26 Oktober 2009, Yahoo! resmi menutup service Geocities. Timbunan kenangan saya dan jutaan pengguna internet awal ikut terkubur bersamanya. Bukan masalah apakah anda juga pernah mempunyai kenangan bersama Geocities atau tidak. Tulisan saya kali ini toh tak lebih dari sekedar flashback dan nostalgia.
Suruh siapa kasih libur terlalu lama. Seperti biasa, jiwa backpacker saya berontak. Bersenjatakan kamera dan sepeda motor, saya menyepi ke sebuah desa yang (nampaknya) tak terkena dampak arus mudik. Hening dan beku. Terselip pada ketinggian 1400 meter di atas permukaan laut.

Candi Ceto pastilah belum sefenomenal Candi Prambanan, sejawat Hindu-nya. Namun bicara soal urat petualangan, Candi Ceto boleh dibilang selevel lebih menjanjikan. Pada catatan ini saya akan berkisah tentang langkah saya menapaki Candi Ceto. Siapa tahu, anda kelak juga berkesempatan untuk berkunjung ke sana.
Aldous Huxley, pengarang Brave New World (1931), pernah mengungkapkan ketakutannya akan masa depan. Kemudahan kita menyebarkan informasi di masa depan mampu menyebabkan banjir informasi. Ketika informasi meluap, signifikansi berita menjadi pudar.

Twitter tak ubahnya bom kecil dari ledakan informasi yang diramalkan Huxley. Jangan salah. Saya punya account Twitter juga yang bisa anda ikuti di sini. Terkadang saya masih menggunakannya meskipun sangat jarang. Saat pertama kali mendengar soal Twitter pada pertengahan 2006, saya mengabaikannya. Setidaknya hingga saat ini. Berikut alasan saya.
Akibat aksi teror kemarin, Manchester United (MU) urung melawat ke Indonesia. Bukan hanya itu saja efeknya terhadap sepakbola, harapan Indonesia untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 pun boleh dibilang efektif pupus.

Bicara soal MU, saya sudah menjadi penggemar mereka sejak tahun 1992, kelas 1 SD. Jadi boleh dibilang saya mengikuti naik turunnya tim ini. Saya ingin menulis sedikit tentang MU, khususnya di sektor favorit : kiper. Tulisan niche ini sekedar untuk mengisi waktu, karena seharusnya sekarang saya sedang gathering dengan para suporter andaikan tragedi kemarin tidak terjadi. Duh!
Hawa dingin sukses membujuk saya untuk merapatkan jaket sebatas dagu. Bukanlah tanpa alasan apabila pada pagi-pagi buta saya harus stand-by di stasiun. Terlambat lima belas menit, kereta api ekspres Lodaya akhirnya tiba; mengantar keluarga saya dari Solo.

"Aston! Braga…". Instruksi singkat itu pun diiyakan oleh sopir taksi yang langsung membawa kami berlima menyusuri jalan berkabut. Kurang dari sepuluh menit, kami sudah tiba di pelataran Hotel Aston Bandung. Dua orang bellboy tersenyum ramah membantu membawakan travel bag. Lokasi strategis yang dekat dengan stasiun adalah salah satu alasan kami tertarik pada hotel ini.
Selama jawabannya benar, siapa peduli apabila pertanyaannya salah? Review ini terlambat relatif lama gara-gara sejumlah masalah pribadi menguras waktu saya. Saya tetap menulis seperti biasa walaupun beberapa tulisan harus dituntaskan dengan cara dirapel seperti kemarin.

Yang unik akibat masalah tersebut, selama dua bulan belakangan ini saya menghindari buku-buku berbau teknis. Saya lebih banyak terjun dalam buku-buku self-help dan kisah-kisah inspiratif yang ringan untuk dibaca tiap hari. Salah satunya adalah buku horor berjubah sejarah karya almarhum Pramoedya Ananta Toer, bertajuk : Jalan Raya Pos, Jalan Daendels.
Usah menyoal ending yang baik atau buruk. Sebentar lagi tirai akan diturunkan. Sudah jadi tugas sang protagonis untuk menutupnya. Ketika tirai terangkat lagi nanti, kita mulai chapter baru. Yang telah lesap ditelan waktu kita tingalkan. Mari melangkah menuju ke yang baru terbuka.

Setidaknya bagi saya seorang, 2008 adalah tahun yang penuh warna. Mengevaluasi, atau sebatas mengenang kembali, memang bukan suatu kewajiban. Saya melakukannya tidak kurang sebagai sebuah penghormatan kepada si anteseden. Lewat tulisan ini, saya akan mengajak anda merekap perjalanan saya sepanjang tahun ini. Inilah Flashback 2008 : A Year In Review.
Dibikin Nempel. Saya paham kenapa buku ini judulnya tidak diterjemahkan seperti itu. Made to Stick karangan Chip Heath ini adalah satu dari enam buku yang saya baca bulan Oktober yang lampau. Resensinya terlambat karena memang ada satu buku yang baru kelar tadi pagi.

Sekedar info. Nggak ada hubungan dengan yang saya baca, anda bisa mampir ke Toko Buku Toga Mas di Jalan WR Supratman 45, Bandung. Toko buku itu menawarkan diskon sekitar 15%, malah pernah ada yang sampai 30%. Koleksinya juga lumayan banyak. Jadi kalau ada buku yang tidak berhasil ditemukan di Pasar Buku Palasari, coba meluncur ke situ.
Baru saja mandi. Mau hangout kok rasanya belum cukup malam. Yah, jadilah saya posting artikel saja. Kebetulan ide posting yang saya simpan sudah numpuk. Waduh! Berarti sudah ada banyak ide yang antre untuk dieksekusi.

Kali ini enteng saja postingan saya. Blog ini sudah eksis sejak bulan Juli, yang berarti sekarang memasuki bulan kelima. Jika ada waktu senggang, saya suka melihat-lihat statistik blog. Statistik tadi banyak membantu saya untuk mengetahui sejauh mana tingkat kehancuran blog ini. Posting anekdotal ini akan mencoba mengekapsulasikan garis besarnya.




