Pada tahun 1904, seorang ekonom Italia bernama Vilfredo Pareto mengungkap bahwa 80% uang di Italia dimiliki oleh 20% orang terkaya. Pandangan itu digeneralisasi oleh Joseph Juran, seorang ekonom Romania, ke berbagai kasus bisnis, khususnya quality management.

Menurut Juran, rasio 80-20 itu menjadi semacam rule of thumb (patokan) di dalam banyak kasus bisnis. Misalnya : 80% pendapatan kita berasal dari 20% cabang usaha kita, 80% dari waktu kita dihabiskan untuk melayani 20% klien kita, dan sebagainya. Simplifikasi yang boleh dibilang kasar dan (menurut saya) ngawur, namun ternyata banyak manfaatnya.


[baca selengkapnya]

Posting ini sekedar kumpulan gambar nostalgia. Ada perkembangan sangat pesat yang tidak kita sadari, yaitu bahwa wajah internet 7 tahun yang lampau (2001) benar-benar jauh berbeda dengan wajah internet kita saat ini.

Seperti apa internet pada tahun 2001? Saat itu saya masih rely on kecepatan koneksi 2-3 KB/s dari SoloNet, Wikipedia baru dibentuk, detikcom masih bi-lingual (Indonesia dan English), desain situs STT Telkom masih kelihatan seperti template Geocities, masih ada Lovemail, Satunet, dan ehm… NgakakDotCom. Sekarang kita lihat saja penampilan ‘masa lalu’ mereka.


[baca selengkapnya]

Sudah satu minggu saya tidak update blog gara-gara tugas besar yang melimpah. Namun semoga saja sekarang sudah sanggup nge-blog dengan lancar. Tulisan kali ini tidak ruwet, cuma sekedar lelucon saja tentang kuliah di Teknik Informatika.

Kuliah informatika itu seru. Terutama di tahun pertama. Soalnya pada masa-masa tersebut, masih banyak mahasiswa yang belum begitu paham mengenai komputer. Akibatnya percakapan pun tak ubahnya seperti dagelan orang udik. Ada yang sok tahu, ada yang bener-bener bego, dan malah ada yang membuat kita mikir, "Kaya gitu kok kuliah informatika?".


[baca selengkapnya]

Disuruh makan sama orang tua? Biasa. Disuruh belajar sama guru? Biasa. Tapi baru kali ini saya disuruh ngeblog. Layaknya chain mail, posting dari Raden Ayu Asri Anggraini W, A.Md dilempar ke saya, lewat posting ini.

Ini posting berantai tentang 4 macam rahasia publik di dalam berbagai kategori. Perihal posting konyol ini, saya tidak bisa menyalahkan mahkluk ini karena dia cuma diminta posting sama orang ini yang diminta posting sama orang ini yang diminta posting sama orang ini yang diminta posting sama orang ini, dan seterusnya.


[baca selengkapnya]

Informasi tidak selamanya baik. Kelebihan informasi dapat merusak kesehatan kita. Meski saya termasuk orang yang rutin berolahraga, ternyata tetap ada penyakit yang menjangkiti. Dan yang satu ini gara-gara internet! Kali ini saya mau posting santai saja tentang penyakit ini.

Semenjak pindah ke daerah Bandung, saya mendapatkan akses internet via kabel. Tentu saja kecepatannya berbeda dengan dial-up. Jauh lebih cepat. Dahulu saya pengguna Centrin, namun sekarang saya berlangganan servis milik Melsa. Akses internet 24 jam inilah yang menyebabkan saya sebentar-sebentar melakukan search di Google.


[baca selengkapnya]

IT Telkom Programming Club merupakan perkumpulan mahasiswa IT Telkom yang fokus kepada pemrograman. Selama tiga tahun terakhir, ini merupakan tempat kami berkumpul, belajar, dan berbagi seputar dunia pemrograman serta terjun ke kompetisi-kompetisi nasional.

Sebentar lagi, Programming Club akan mengadakan rekruitasi angkatan keempat. Tentu akan ada sekitar 200-300 pendaftar yang mengikuti tes seleksi. Sebagai warming-up, saya rasa tidak ada salahnya apabila saya memberikan deskripsi umum tipe-tipe personil yang ada di perkumpulan ini sejak pertama kali Programming Club dibentuk.


[baca selengkapnya]

Saya tidak tahu apakah penyakit salah sebut ini hanya menjangkiti siswa Indonesia saja. Saya juga tidak pernah dengar apakah siswa luar negeri banyak yang mengira kalau ibukota Indonesia itu, misalnya, Lamongan. Bukan Jakarta.

Ketika saya duduk di bangku SD dan SMP, ada beberapa negara yang ibukotanya kerap salah sebut. Uniknya, salah sebut ini terjadi pada negara-negara tertentu saja. Mungkin ini semata-mata akibat popularitas kota yang bukan ibukota tersebut, yang ternyata melebihi popularitas sang ibukota sendiri. Atau barangkali ada alasan lain…


[baca selengkapnya]

Kategori: Interesting
 

Clean desk means no work, demikian kata orang bule. Tidak jarang saya melihat meja kerja yang hanya sedikit lebih bersih daripada kandang babi. Tumpukan kertas ada di mana-mana. Bungkus makanan dan bangkai tikus (exaggeration) berbagi hunian. Bahasa halusnya : memuakkan.

Bagi saya meja kerja merupakan altar. Sebab di sanalah saya menghabiskan kurang lebih 12 jam setiap hari. Jika tidak dirapikan berarti setengah dari hidup saya ada di tumpukan sampah. Berikut ini beberapa cara yang saya lakukan untuk mensimplifikasi meja kerja. Terkecuali anda tinggal di dalam kamar satu kali setengah meter, saya rasa tips berikut ini berguna bagi anda.


[baca selengkapnya]

Seakan bertepatan dengan Chrome, saya baru saja menuntaskan buku The Google Story. Buku yang versi Indonesianya berjudul Kisah Sukses Google itu ternyata isinya sangat inspiratif. Namun tentu saja itu hanya satu dari lima buku yang saya baca bulan Agustus kemarin.

Beban kuliah mulai terasa berat di STTT (Sekolah Terus Tanpa Tidur), jadi saya sengaja memilih buku-buku teknis yang agak ringan. Sebenarnya saya merasa berterima kasih kepada buku-buku berikut ini. Sebab merekalah yang sudah menemani saya selama kuliah Kewarganegaraan yang membosankan itu. Hehehe…


[baca selengkapnya]

Kategori: Books | Review
 

My first post in English. Yes! Google Chrome Beta is officially available hours ago (it is now 2.20 AM WIB here (19.20 GMT)). I am running on Windows Vista and having give it a try, now I want to write about my first time experience using Chrome.

My thought when I heard about Chrome is : why does we need another browser? There are bunch of browsers out there already. If it is intended to be open-source answer for Microsoft Internet Explorer, again, what’s wrong with Firefox? Honestly, I was also skeptical when they said Chrome is based on Webkit engine, the same engine that is used by Safari. But they prove me wrong.


[baca selengkapnya]

Kategori: Technology | Review
 

Tidak harus prajurit. Semua orang bisa jadi pahlawan. Kemarin saya nampang di dalam sebuah talkshow di hadapan para mahasiswa baru angkatan 2008. Yang lucu, dan agak berlebihan, tajuk acaranya adalah : Perkenalan Pahlawan IF Beserta Hasil Karya Juangnya.

Acara yang juga diisi oleh Bapak Romi Satria Wahono itu isi utamanya adalah memberi gambaran kepada mahasiswa baru tentang dunia informatika. Selama kurang lebih satu jam, saya bersama Leonardi, Mirza, dan Amel dicecar pertanyaan-pertanyaan yang insinyur NASA pun kayanya nggak bakal bisa jawab. Hehehe… Berikut ini sedikit cerita tentang acara kemarin.


[baca selengkapnya]

Tidak salah jika orang bilang bangsa Jepang itu punya dedikasi tinggi. Barusan saya menemukan artikel yang sangat menarik. Isinya tentang Hiroo Onoda, seorang letnan Jepang yang melakoni Perang Dunia II selama hampir 30 tahun.

Membaca judulnya saja mungkin membuat kita mengernyitkan dahi. Diawali dari invasi Jepang ke Cina Daratan (1939) hingga jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki (1945), efektif Perang Dunia II hanya berlangsung selama enam tahun. Lalu bagaimana bisa sang serdadu menjalani pertempuran selama tiga puluh tahun?


[baca selengkapnya]

Sudah selesai. Tidak nampak lagi kabut tipis yang menyelimuti persawahan di Jenar. Tidak ada lagi panas matahari Purworejo yang membakar kulit. Semua itu tinggal kenangan. Gladi selama enam minggu di Kancatel Purworejo baru saja berakhir hari ini.

Malam tadi ketika deru mesin lokomotif berakhir di Stasiun Solo Balapan, saya merasa segalanya terlalu cepat berlalu. Mungkin saya tidak akan pernah kembali ke tempat yang sama. Ada tersisa dari sana sekumpulan kisah kecil dan tidak begitu penting, saya menyebutnya remeh-temeh, yang telah ikut mewarnai perjalanan selama enam minggu tersebut.


[baca selengkapnya]

Kategori: Activity | Campus
 

Terlambat tiga belas hari. Gara-gara harus Gladi di Purworejo, saya tidak memiliki banyak waktu untuk membaca buku. Akibatnya, secara efektif bacaan bulan Juli baru mampu saya selesaikan pada tanggal 11 Agustus kemarin.

Beberapa buku yang saya baca kali ini cukup unik. Jika melihat foto di atas, salah satunya adalah Laskar Pelangi. Tiga buku lainnya pun, tumben, tidak punya hubungan dengan informatika. Hanya satu buku tipis yang saya baca berhubungan dengan informatika, karena kebetulan temanya juga sesuai dengan tema rencana Tugas Akhir saya.


[baca selengkapnya]

Kategori: Books | Review
 

Mesin waktu itu tidak akan ada. Itu adalah jawaban saya waktu SD ketika seorang sahabat bertanya apakah di masa depan bakal ada mesin waktu. Mengapa? Sebab andaikan mesin waktu benar-benar ada, seharusnya saat ini kita sudah bertemu dengan orang-orang dari masa depan.

Namun ternyata masalahnya tidak sesederhana itu. Terlepas dari akan ada atau tidaknya mesin waktu, terdapat paradoks yang cukup menggairahkan untuk dibahas. Soal mesin waktu sendiri tentunya kita sudah tidak asing, sebab ada banyak film yang mengisahkan keberadaannya seperti Back to The Future, Doraemon, dan Quantum Leap.


[baca selengkapnya]

Seratus? Apa nggak kebanyakan? Pertama sih sebenarnya saya mau menulis 10, tapi keliru ketik jadi 100. Lucunya, kemudian saya berpikir, "Hell no! I can mention a hundred anyway!" Sekarang masalahnya tinggal bagaimana saya menulisnya satu per satu.

Semua orang pernah merasa jenuh atau bosan. Demikian pula dengan saya. Dengan mengenali hal-hal apa saja yang bisa membuat saya merasa nyaman, kita mampu mengurangi perasaan tidak enak. Banyak hal yang bisa mewarnai hari-hari kita yang terasa suntuk. Berikut ini seratus hal yang dapat mencerahkan keseharian saya. Semoga memberi inspirasi.


[baca selengkapnya]

"Ini zaman OOP, cuk!" boleh jadi jargon para calon insinyur di kampus. Banyak junior saya yang bertanya-tanya : buat apa belajar pemrograman prosedural (imperatif)? Bukankah nantinya jika kita bekerja di perusahaan software, konsep yang kita pakai adalah OOP?

Suka tidak suka. Mau tidak mau. Boleh tidak boleh. Rela tidak rela. Ada sejuta justifikasi mengapa kita perlu belajar dari paradigma prosedural terlebih dahulu. Jika perguruan tinggi memutuskan bahwa mahasiswa harus mulai dari Pascal, bukan dari Java atau .NET, tentu mereka punya alasan yang cukup kuat. Berikut ini hasil cangkrukan saya dengan seorang sobat.


[baca selengkapnya]

Malam kemarin di Prambanan Ekspres. Seorang lelaki paruh baya dengan kruk naik ke gerbong yang sudah penuh. Dia nampak kesulitan untuk mengangkat tubuhnya. Setelah hampir tiga menit dia berjuang, akhirnya saya sendiri yang berdiri dan membantu dia naik.

Saya bukan mau nyombong soal itu. Ada hal lain yang jauh lebih mengusik pikiran saya. Saat itu ada lebih dari 60 orang di sana, namun mengapa tidak seorang pun menolong bapak tadi? Apakah memang ini kultur perkotaan yang serba cuek? Rasanya bukan. Kali ini saya akan bercerita soal sindrom yang disebut dengan istilah Bystander Apathy (Darley, 1968).


[baca selengkapnya]