Telepon genggam umumnya bukan produk dalam negeri. Tidak heran apabila banyak kultur lokal yang tidak mampu terakomodasi di dalamnya. Salah satu kasus lazim mungkin adalah phonebook alias daftar nomor telepon dan atribut nama seseorang.

Sebutlah seorang rekanan studi di IT Telkom. Daftar nomor telepon di ponselnya terbilang cukup menarik, walau tidak unik. Apa pasal? Hampir setengah dari nama-nama di sana dibubuhi dengan embel-embel, entah itu Pak, Bu, Prof, atau bahkan Kak. Alhasil pengindeksan yang ada di daftar tersebut pun menjadi semi rancu. Lalu masalahnya?


Kebiasaan Kultural

Untuk orang tua, sudah selazimnya kita tambahkan atribut Pak atau Bu. Bukan sekedar soal usia namun lebih ke soal rasa hormat dan respek.

Itu kalau di dunia nyata, namun apakah itu juga berlaku di dunia digital?

Tidak aneh apabila kemudian daftar nomor telepon yang ada di ponsel terlihat lucu. Ada Pak Abdul Latief, Pak Andi Matalata, hingga Pak Zainuddin MZ yang kesemuanya terindeks pada huruf P. Jadi lucu karena Abdul Latief seharusnya ada di indeks A dan Zainuddin MZ ada di indeks Z.

Sudah jadi budaya kita untuk bertingkah seperti itu. Buat pemilik handphone lawas seperti saya bisa dikata itu merepotkan. Karena satu-satunya sistem pengurutan adalah berdasarkan karakter terdepan, diikuti karakter-karakter berikutnya. Menyebalkan memang.

Apa sanggup dikata, tak semua teknologi akomodatif terhadap kasus tersebut. Jumlah phonebook yang mampu memisahkan title, first name, dan last name boleh dibilang tidak banyak. Kalaupun ada, sebagian besar tidak memampangkan title pada halaman phonebook. Sama saja bohong.

Solusinya? Atribut Pak, Bu, Mas, Kang, Bang, Cak, Om, Tante, dan sebagainya menjadi first name sedangkan nama mereka menjadi last name. Dengan demikian item-item yang ada dalam daftar terpampang dengan benar. Hati pun lebih puas. Tidak ada rasa perkewuh lagi. Apalagi kalau-kalau phonebook kita dibaca oleh orang yang bersangkutan.

Atribut Melekat

Bicara soal atribut, sebenarnya ada gunanya juga. Beberapa orang punya atribut yang memang melekat erat. Misalnya menulis Mbah Surip tentu berbeda dengan menulis Surip saja, selain bisa tertukar dengan Surip si Tukang Las atau Surip si Guru Akuntansi, juga tidak informatif.

Saya sendiri dulu punya kebiasaan menulis nama yang agak berbeda dengan teman-teman. Saya suka menaruh embel-embel pada bagian belakang entries dipisahkan tanda koma. Misalnya Husni Amani, Rektor atau Dede Yusuf, Wagub.

Dengan demikian saya bisa membedakan antara Joko Susilo, Guru Fisika SMA dengan Joko Susilo, Guru Biologi SMP. Rada njangkar memang. Namun mendapuk atribut sebagai first name bagi saya justru menyusahkan.

Tentu saja itu kembali ke sang empunya ponsel. Mau ditulis seperti apa terserah dia. Ini kan soal kenyamanan hati sang pemilik.

Ah iya, bagaimana dengan anda? Berapa banyak Pak dan Bu di ponsel anda?

 

Ada 10 Komentar | Tambahkan Komentar

  1. Kalo aku depan blakang, wan…

    kalo depan itu, klasifikasi yang lebih general, misalkan, temen2 ITT itu selalu dibubuhi dengan tanda . …
    Contoh: .Wirawan

    kalo blakang itu, mengklasifikasikan nama2 yang sama di satu klasifikasi general.
    Contoh: .Wirawan W. 05′
    .Wirawan W. 14′

    Soalnya HP aku juga lawas wan,

     
    Gravatar Image

    — October 24, 2009 :: 7:17 am

  2. hm, pake nama panggilan aja klu di hp. klu ada kasus khusus (nama sama) di tambahin embel2… misalnya ‘xxx ittelkom’, satunya lagi ‘xxx batagor’

    klu di pda baru nama lengkap…

    kayaknya tiap orang beda2 deh, tergantung enaknya aja x y

     
    Gravatar Image

    — October 25, 2009 :: 12:54 am

  3. dikiiiittt
    aku termasuk orang yg gak hobi kasih embel2 d phonebook
    dan biasa save pake nama asli…

    jd nama kamu d hapeku ya wirawan winarto, wan…
    bukan wirawan sayang…

    *kayak ada aja*

     
    Gravatar Image

    — October 25, 2009 :: 2:30 am

  4. jadi kebiasaanku udah bener nih.. nama orangnya selalu aku taruh depan.. bahkan nama orangtuaku juga gitu… biarin dibilang njangkar, yang penting bisa cepat dalam mencari… hehe

     
    Gravatar Image

    — October 25, 2009 :: 8:22 am

  5. jadi kebiasaanku udah bener nih.. nama orangnya selalu aku taruh depan.. bahkan nama orangtuaku juga gitu… biarin dibilang njangkar, yang penting bisa cepat dalam mencari… hehe

     
    Gravatar Image

    — October 25, 2009 :: 8:29 am

  6. #harry
    bagus juga. intinya memang butuh sedikit hack untuk yang punya hape lawas.
     
    #shiddieq
    iya. biasanya ada yang lebih enak nurut ke patron default terknologinya. ada pula yang lebih enak kalau mengikuti budaya yang berlaku.
     
    #asri
    bohong. pasti ada.
     
    #oshi
    nah, ini berarti kamu pro teknologinya. hahaha… aku juga lebih suka begitu sih.

     
    Gravatar Image

    — October 25, 2009 :: 3:16 pm

  7. @Asri
    Wahahaa.. Wirawan sayang?!
    Jangan-jangan ada “Putri Chairina, Baik Hati” ya? :p

    @Wirawan
    Hmm.. Bener juga..
    Selama ini saya seringnya menjadikan identitas(mba, pak, bu, dll) sebagai firstname. Tampaknya alternatif yang Wirawan tawarkan bagus untuk diterapkan.

     
    Gravatar Image

    — November 12, 2009 :: 3:37 am

  8. #pucha
    sebenarnya alternatif mana pun itu oke. cuma terkadang yang namanya teknologi impor kan kurang akomodatif dengan budaya lokal.

     
    Gravatar Image

    — November 30, 2009 :: 7:40 pm

  9. kalo di hape aku yg lawas dulu nulisnya nama asli baru title nya
    kalo di hape skrang ada first n last.. awalnya cukup gaptek pas makenya,, tapi ternyata malah lebih mudah…

     
    Gravatar Image

    — November 30, 2009 :: 10:26 pm

  10. #Pia
    itu bagus. artinya kan tidak menumpuk di Pak dan Bu.

     
    Gravatar Image

    — December 1, 2009 :: 7:24 am

 



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.