Bulan ini mulai menulis lumayan telat. Maklum gara-gara router rusak, akses internet jadi susah dan merepotkan. Usut punya usut, router tua tersebut memang sudah masanya dipensiunkan. Tak ayal kami pun merogoh kocek untuk membeli yang baru.

Menilik tradisi, saya terbiasa membuat posting seperti ini setiap bulan. Namun berhubung masalah tadi, saya baru sempat mempublikasikannya di tanggal tua. Beberapa pemikiran berikut ini ditulis hanya beberapa saat seusai saya mengikuti event Pesta Blogger 2009 di Jakarta. Inilah hasil dari serpih-serpih pemikiran dangkal untuk bulan Oktober.
Telepon genggam umumnya bukan produk dalam negeri. Tidak heran apabila banyak kultur lokal yang tidak mampu terakomodasi di dalamnya. Salah satu kasus lazim mungkin adalah phonebook alias daftar nomor telepon dan atribut nama seseorang.

Sebutlah seorang rekanan studi di IT Telkom. Daftar nomor telepon di ponselnya terbilang cukup menarik, walau tidak unik. Apa pasal? Hampir setengah dari nama-nama di sana dibubuhi dengan embel-embel, entah itu Pak, Bu, Prof, atau bahkan Kak. Alhasil pengindeksan yang ada di daftar tersebut pun menjadi semi rancu. Lalu masalahnya?




