Aldous Huxley, pengarang Brave New World (1931), pernah mengungkapkan ketakutannya akan masa depan. Kemudahan kita menyebarkan informasi di masa depan mampu menyebabkan banjir informasi. Ketika informasi meluap, signifikansi berita menjadi pudar.

Twitter tak ubahnya bom kecil dari ledakan informasi yang diramalkan Huxley. Jangan salah. Saya punya account Twitter juga yang bisa anda ikuti di sini. Terkadang saya masih menggunakannya meskipun sangat jarang. Saat pertama kali mendengar soal Twitter pada pertengahan 2006, saya mengabaikannya. Setidaknya hingga saat ini. Berikut alasan saya.
Ekspresi

Saya suka berbagi cerita, bukan berbagi data. Twitter membatasi tweet dalam 144 karakter membuat saya kesulitan mengekspresikan pemikiran. Mengungkapkan kebobrokan sistem pendidikan Indonesia dalam suatu esai 7-8 paragraf mencerminkan kualitas pemikiran, sebaliknya berteriak "Woooo, Pendidikan Indonesia Bobrok!!" cuma butuh ijazah SD.
Selain itu, Twitter lebih pantas untuk menghadirkan fakta-fakta mentah. Karena ukurannya yang pendek dan jumlahnya yang banyak, isinya pun jarang membekas. Saya sering merasa terkesan membaca posting blog orang lain, namun belum pernah mengagumi tweet orang lain.
Signifikansi

Penting atau tidakkah pesan yang saya broadcast? Jika tidak penting, buat apa saya publikasikan ke semua orang? Jika penting, maka Twitter tidak cukup layak untuk itu. Twitter ibarat suatu kumpulan orang sekelas yang ngomong bersama-sama. Masing-masing melontarkan satu kalimat namun di dalam frekuensi tinggi. Jika informasi yang ingin anda berikan kepada mereka itu benar-benar penting, lebih baik anda telepon mereka secara pribadi. Percayalah.
In the end, the information has no value. Tapi bukankah kita sanggup mendapatkan berita melalui Twitter? Ya. Tetapi tiap ada berita yang cukup panas maka semua orang melontarkan tweet yang sama. Bom meledak, ribuan orang menyebar informasi yang sama. Lalu di mana nilainya? Apabila berita cukup besar, maka itu akan tersebar. Titik. Terlepas dari anda pakai Twitter atau tidak.
Kualitas

Menyambung poin di atas, sebagian besar informasi yang beredar di alam Twitter adalah sampah, alias tidak cukup relevan bagi saya. Ungkapan seperti "Enjoying Cotto Makassar on Pak Doel!" atau "Going out to Marshanda’s Party with my celebrity friends!" tidak penting saya ketahui kecuali jika anda habis membunuh Michael Jackson atau membakar habis Solo Grand Mall.
Saya sendiri tidak suka membeberkan kehidupan pribadi saya dari menit ke menit kepada semua orang. It’s just like an attention whore. Saya sudah mencobanya. Namun tetap saja terasa kurang bermanfaat, kecuali "Waduh! Mobilku lagi jalan kenceng banget nih, 120 km/jam, bo! Susah bener update status sambil nyetir gini! Bentar, aku pelanin dulu…"
Fasilitas

Dari sudut pandang servis, Twitter terlalu sederhana. Sederhana namun tidak mendasar, agak berbeda dengan e-mail atau instant messenger. Dengan kata lain semua hal yang Twitter punyai sebenarnya bisa di-embed pada servis lain, misalnya Facebook. Untuk apa mempunyai Twitter jika hal yang sama dapat anda tulis pada status Facebook untuk audiens yang lebih signifikan?
Servis yang dipunyai Twitter juga boleh dibilang kurang di sana sini. Terbukti dengan banyaknya third-party produtcs yang berusaha ‘menambal’ lubang-lubang tersebut.
Komplemen

Apa yang anda lakukan sebelum ada Twitter? Tidak ada. Twitter tak membantu memperbaiki apapun. Sebelum ada e-mail, saya mengirim surat. Sebelum ada blog, saya menulis jurnal serta artikel lepas. Sebelum ada instant messenger, saya ngobrol dengan teman lewat telepon. Namun sebelum ada Twitter, saya tidak pernah memberitahu orang lain "Lagi di WC nih! Mules!"
Artinya, Twitter hanya menambah pekerjaan saya. Butuh curahan waktu dan tenaga lebih untuk me-manage account yang saya miliki. Twitter menambah pekerjaan yang sebelumnya tidak saya punyai, ironisnya saya sudah cukup repot untuk itu.
Saya pengguna Twitter, namun tidak begitu menyukainya. Bagaimana dengan anda? Kenapa?





Saya ‘masih’ suka twitter.
Cukup dua alasan,
1. Boss saya punya account Facebook
2. Dan beliau tidak punya account Twitter
Ketika saya update status d Fb, otomatis Boss saya tau hal itu.. Sedangkan twit2 kecil di twitter masih aman terkendali. Hehe
Namun apa ini akan bertahan lama? nampaknya tidak, ah saya memang gampang bosan *yawn*
#nadia
kalau ini bertahan lama, cepat atau lambat bossmu pasti juga bakal bikin account Twitter. hehehe…
dulu plurk trus twitter..
mas wawan nyobain semua tapi tidak suka ya,,?
tren sesa[a]t
aku punya twitter tapi… boro-boro, update status fb aja kadang-kadang. Hahaha..
klo adik aku memanfaatkan twitter buat nge-follow artis-artis dan ‘nguping percakapan’ mereka
#tia

karena aku suka mencoba. hehehe…
#asri
kamu Facebook aja belum punya kan? dasar!
#sinta
ide bagus juga tuh. pakai twitter cuma sekedar buat nguping. zaman sekarang jadi intel nggak susah.
saya cuman nge-klaim akun aja. icip-icip dikit. tapi masi milih nyatet di blog. sependek yang saya liat, twitter lebih populer dibanding facebook dan plurk untuk kalangan yang lebih serius.
#dani
iya. Twitter itu mungkin cocok buat selebritis yang sibuk dan kehidupan pribadi minute-by-minute nya diperhatikan oleh fans-nya. kalau buat orang biasa rasanya “kurang intim” dengan teman-teman.
gak nyangka, wirawan humoris juga, artikel di atas buat saya tertawa beberapa kali, nice post
sama saya juga gak suka twitter. taoi suka FB hehe
Tukeran link yoooo
makasih ^_^
#sthevanie
makasih. oke deh. link ditambahkan kalau nanti saya update lagi ya.