"Kamu enak. Kerja di Jerman digaji 1000 Euro. Itu kan sekitar Rp 14 juta." kata seorang eksekutif muda. "Nggak juga, bung! Di sana kan biaya hidupnya juga tinggi." tangkis yang satunya. Mungkin percakapan semacam itu sudah tidak asing lagi di telinga anda.

Sepuluh dolar Amerika, anda dapat apa? Tergantung di mana anda tinggal. US$ 1.00 di Indonesia pasti nilainya lebih tinggi daripada US$ 1.00 di Inggris. Tentu karena barang yang terbeli dengan nominal tersebut berbeda. Lalu bagaimana kita membandingkan keduanya? Pada tahun 1986, Pam Woodall muncul dengan solusinya yang terkenal : Big Mac Index.
Big Mac Index
Mana yang lebih layak, digaji 1000 Euro di Jerman atau digaji Rp 5 juta di Indonesia? Andai saya ubah nilai keduanya ke rupiah, maka nampak bahwa gaji di Jerman sekitar Rp 14 juta, alias tiga kali lebih besar daripada gaji di Indonesia. Namun bukankah biaya hidupnya juga berbeda?
Untuk mengukur biaya hidup, ada banyak parameter. Perhitungannya pun tidak sederhana. Itulah alasan Pam Woodall mengajukan sebuah solusi ’satuan kasar’ yang universal, yaitu Big Mac.
Satuan Big Mac ini didapat dengan mengkonversikan nilai dari mata uang ke harga Big Mac pada negara yang bersangkutan. Ambil contoh, harga satu Big Mac di Jerman adalah 3.31 Euro. Dengan demikian 1000 Euro setara dengan 1000 / 3.31 = 302 Big Mac.
Sementara itu, di Indonesia harga Big Mac adalah Rp 20.900 per porsi. Dengan demikian Rp 5 juta setara dengan 5.000.000 / 20.900 = 239 Big Mac.
Disimpulkan bahwa 1000 Euro di Jerman lebih layak daripada Rp 5 juta di Indonesia.
Alasan pemilihan Big Mac sebagai satuan ialah ketersediaannya yang luas. Hampir semua negara mempunyai gerai McDonald’s yang menjual Big Mac. Apalagi harga Big Mac pada masing-masing negara bervariasi, ditentukan oleh harga bahan baku dan biaya produksi McDonald’s setempat.
Just Raw Guess
Tentu saja ini hanya sebatas ‘patokan kasar’. Apabila kita mengambil parameter lain, katakanlah satu gelas kopi di Starbucks atau satu donat di Dunkin Donuts, hasilnya bisa berbeda.
Demikian pula harga barang boleh dibilang variatif. Sebagai contoh, harga makanan di Singapura jauh lebih mahal daripada di Indonesia. Padahal harga barang elektronik di Singapura relatif lebih murah. Demikian pula apabila kita membahas harga mobil di Amerika.

Nah, sebagai ilustrasi kasar saja. Gaji seorang teman saya yang bekerja sebagai programmer di Bandung adalah 160 Big Mac per bulan. Sementara itu teman yang lain bekerja dengan pekerjaan yang kurang lebih sama di Singapura, dibayar 480 Big Mac per bulan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa teman saya yang hidup di Singapura itu tiga kali lebih makmur daripada teman saya yang hidup di Bandung. Dengan gaji lebih besar tujuh kali lipat, jika dikonversikan ke rupiah.
Untuk mengetahui harga Big Mac di berbagai negara, anda bisa gunakan patokan ini.
Bicara soal Big Mac bikin saya lapar. Sekedar informasi, McDonald’s di Bandung rata-rata buka 24 jam. Jadi anda bisa mampir di sana untuk sahur. Anyway, Selamat Menunaikan Ibadah Puasa!





Ahh.. gaji saya bisa beli berapa big mac ya? *hitung2*
Langsung lirik2 loker di Singapura haha..
Anw, setelah super keju dan conello, nampaknya nanti menu berbuka saya ga jauh2 dari menu McD. *Krucuk2*
#nadia
harga Big Mac yang terakhir kayanya sudah bukan Rp 20.900 deh. jangan bahas makanan terus, ntar batal. hehehe…
Ahahah.. siap grag!
saya berapa ya??
ga mau ngitung ah.. takut jadi ga puas..
lagian saya khan ga makan big mac..
makan warteg… :p
#nadia
balik kanan…
#sez
kalo standar perhitungannya berapa jumlah tongkol yang bisa anda beli di warteg, gimana? hehehe…
Hmmm, menarik sekali mengetahui bahwa suatu makanan dapat digunakan untuk mengetahui indeks kesejahteraan hidup suatu negara.
#rano
yup. karena ketersediaannya mengglobal sementara bahan baku yang digunakan lokal.