Aldous Huxley, pengarang Brave New World (1931), pernah mengungkapkan ketakutannya akan masa depan. Kemudahan kita menyebarkan informasi di masa depan mampu menyebabkan banjir informasi. Ketika informasi meluap, signifikansi berita menjadi pudar.

Twitter tak ubahnya bom kecil dari ledakan informasi yang diramalkan Huxley. Jangan salah. Saya punya account Twitter juga yang bisa anda ikuti di sini. Terkadang saya masih menggunakannya meskipun sangat jarang. Saat pertama kali mendengar soal Twitter pada pertengahan 2006, saya mengabaikannya. Setidaknya hingga saat ini. Berikut alasan saya.
"Kamu enak. Kerja di Jerman digaji 1000 Euro. Itu kan sekitar Rp 14 juta." kata seorang eksekutif muda. "Nggak juga, bung! Di sana kan biaya hidupnya juga tinggi." tangkis yang satunya. Mungkin percakapan semacam itu sudah tidak asing lagi di telinga anda.

Sepuluh dolar Amerika, anda dapat apa? Tergantung di mana anda tinggal. US$ 1.00 di Indonesia pasti nilainya lebih tinggi daripada US$ 1.00 di Inggris. Tentu karena barang yang terbeli dengan nominal tersebut berbeda. Lalu bagaimana kita membandingkan keduanya? Pada tahun 1986, Pam Woodall muncul dengan solusinya yang terkenal : Big Mac Index.
Awal bulan Agustus ini saya berbicara di hadapan 950 mahasiswa baru IT Telkom. Mahasiswa baru adalah kaum yang kebingungan. Banyak mahasiswa IT Telkom yang diterima di kampus tersebut tanpa maksud menjadikannya sebagai pilihan utama.

Ketika satu pintu kesempatan tertutup, banyak orang yang meratapinya. Banyak orang yang tidak paham bahwa jika satu pintu kesempatan tertutup, maka pasti ada pintu lain yang terbuka. Tidak jarang pintu yang kedua sebenarnya justru membawa mereka ke tempat yang lebih baik. Bicara soal pelajaran hidup yang tiada akhir, berikut ini jatah untuk bulan Agustus.





