Sejak pertama digulirkan, sudah 5 juta pengguna Facebook ikut serta dalam menulis 25 Random Facts About Me. Berarti sudah ada 125 juta fakta yang dibuka untuk konsumsi publik. "It is just a harmless internet meme", kata teman yang meminta saya juga melakukannya.

Meskipun demikian, saya bukan orang yang senang membicarakan isi hati saya ke publik. Apalagi menyangkut kehidupan saya sekarang. Sebagai gantinya, tanpa mengurangi respek, saya menulis 25 Fakta Masa Kecil Saya di blog ini. Saya pikir ini bisa menjadi substitusi yang sepadan, harmless enough, dan tetap menarik untuk dibaca. Enjoy!
Random Facts
Satu, semasa kecil, saya mempunyai hobi aneh yaitu duduk di atas atap rumah sambil membaca buku-buku populer. Kegiatan ini biasanya saya lakukan hingga pukul lima sore.
Dua, sejak kelas 1 SD saya mempunyai hobi menulis pemikiran-pemikiran aneh, total sudah lebih dari 200 buku tulis saya habiskan untuk hal ini. Ibu saya tidak mau membuangnya.
Tiga, saya adalah penganut humanisme sejak berusia sebelas tahun.
Empat, banyak kebodohan yang saya lakukan ketika duduk di bangku SD, termasuk di antaranya menyumbat saluran air di WC, menanam pohon mangga di dalam pot, hingga meluncur dari atas loteng mengendarai papan landasan setrika.
Lima, hukuman yang diberikan ayah apabila saya nakal adalah cambukan dengan menggunakan cambuk kuda. Cambuk itu dia beli di Sekaten (semacam acara pasar malam di Kraton Solo).
Enam, mainan pertama saya waktu bayi adalah sebuah radio.
Tujuh, saya menggunakan komputer sejak berusia empat tahun. Komputer pertama saya adalah Intel 80386 dengan graphics CGA 4-warna. Saya merupakan penggemar berat game Dig Dug dan GPCGA, sementara ayah saya menyenangi Digger.
Delapan, sejak kecil ada satu mimpi aneh yang berulang kali muncul. Saya berdiri seorang diri di sebuah jalanan kota tua pada suatu senja. Saya menatap langit berwarna jingga dan matahari pun perlahan bergerak mendekat. Hingga saat ini saya tidak tahu tempat apa itu.
Sembilan, ibu selalu memasak di rumah dan saya menyukai masakannya.
Sepuluh, pada tahun 1994, ayah saya pergi ke Frankfurt dan Paris. Saya mendapatkan oleh-oleh berupa satu set Lego Technic. Mainan paling keren yang pernah saya punya.
Sebelas, saya menabung di Lippo Bank, saat itu jumlah tabungan saya hanya Rp 400.000.
Dua Belas, ada banyak model robot-robotan yang saya punya. Saya tidak menggunakan mereka untuk perang-perangan, melainkan untuk simulasi permainan sepakbola.
Tiga Belas, di bangku TK, saya punya kebiasaan lepas celana dahulu sebelum ke WC. Akibatnya saya kerap diomelin guru gara-gara lari-lari tanpa celana dari kelas menuju ke WC.
Empat Belas, karena tidak memiliki uang untuk beli bola (orang tua saya tidak mau membelikan saya bola), maka saya pun membuatnya sendiri dengan buntelan plastik yang diisi kertas koran.
Lima Belas, akibat kerusuhan etnik pada bulan Mei 1998, hubungan saya dengan teman-teman dari etnis Jawa agak renggang. Padahal, sebelumnya saya lebih senang bermain dengan mereka daripada bermain dengan kelompok-kelompok yang lain.
More Random
Enam Belas, setiap kali diajak ke sebuah pesta, saya kejar-kejaran dengan adik-adik saya dan bermain petak umpet di bawah meja para tamu. Gara-gara itu, orang tua kami tidak pernah lagi mengajak kami ke pesta sampai saya duduk di bangku SMP.
Tujuh Belas, saya pernah adu jotos dengan anak SMP Sunniyah di bundaran jam Pasar Gede.
Delapan Belas, salah satu kenakalan yang kerapkali saya lakukan sewaktu kecil adalah mencuri bawang atau cabe di pasar.
Sembilan Belas, pertandingan sepakbola pertama yang saya tonton sampai habis adalah Aston Villa versus Portsmouth di Piala FA 1997. Skornya adalah 2-2.
Dua Puluh, dari bayi hingga SMA, saya menggunakan guling yang sama.
Dua Puluh Satu, setiap ditanya perihal cita-cita, saya selalu menjawab bahwa saya ingin menjadi arsitek. Saya menjawab demikian hanya karena ayah saya pernah menyuruh menulis seperti itu pada kuesioner biodata di sekolah. Sejujurnya saya tidak punya cita-cita.
Dua Puluh Dua, saya menyampaikan pidato pertama ketika berusia tiga tahun di TK Mesen dan pada waktu itu alasannya karena cuma saya murid yang bisa membaca dengan lancar.
Dua Puluh Tiga, saya kaget ketika pertama kali mendengarkan suara sendiri di mikrofon.
Dua Puluh Empat, saya mendapatkan pelatihan kepemimpinan dan public speaking ketika saya berusia delapan tahun. Ayah memaksa saya mengikutinya dan saya menyukainya.
Dua Puluh Lima, ketika kecil saya dilarang menonton film yang ditayangkan pada pukul 21.00 ke atas. Sekali waktu saya diam-diam menonton satu film, yaitu film tentang John Dillinger.





funny facts,,,n rada sombong dikit nih,,,
@di
hehehe… thanks. bukan cuma ‘rada’ sombong, tapi emang dibikin terlihat sombong.
masa kecilny ko2 seru y;
tapi ga’ keliatan nyombong ko’.
lagian itu kan mmg fakta.
skalian foto masa kecil mungkin?
Knapa nomor 2 tidak dibukukan??
Lumayan tuh, hehe
@vonny
yup. makasih me…
@asri
asri tuh demen ngoleksi fotoku ya?
@wulunk
hayah. isinya kan pemikiran anak kecil, ga ada yang keren kali. cuma kaya belajar nulis gitu.
yang versus Smp Sunniyah judul e opo?
menang sopo?
@tobu
menang aku, soalnya deket rumahku… jadi aku berani
mas, yang ke delapan belas itu nyuri buwat diapain?? =)
mas yang ketiga belas itu emang beneran?
pantesan dipanggil shinchan dah….
jadi itu toh penyebabnya….
#tia
taruhan. banyak-banyakan doank sama anak-anak kampung.
#wilz
hahaha… itu ketika masih di TK