Orang Latin mengenal istilah homo ludens. Artinya, manusia adalah makhluk bermain. Siapa yang tidak kenal sepakbola. Permainan dari Romawi yang kemudian distandarisasi orang Inggris. Boleh jadi tidak ada permainan lain yang bisa diadu popularitas dan prestise-nya.

Demi menyaksikan duel raja Inggris, Manchester United, melawan jawara Italia, Inter Milan, saya pun bela-belain nonton bareng jam dua pagi di MU Cafe, Paris van Java. Dengan harapan nantinya Manchester United meraih kemenangan, saya sudah stand-by di sana sejak pukul 01.00 bersama seorang teman. Mau tahu nuansanya?
The MUCafe
Malam tadi udara Bandung sangat dingin. Bisa dibilang ini semacam bentuk pembangkangan lokal terhadap global warming. Saya berkendara dengan sepeda motor ke kos Anthony, seorang teman lama, untuk kemudian berangkat bersama-sama dengan menggunakan mobil.

Pukul satu dini hari kami sudah sampai di MU Cafe. Sebuah kafe yang nyaman dengan kapasitas mencapai 60 orang di pusat perbelanjaan Paris van Java. Pada saat itu kafe masih relatif sepi, hanya ada belasan orang duduk-duduk santai di sofa panjang sembari menikmati dark beer (orang biasanya menyebutnya ale, bukan bir tipe lager).
Untuk setiap show, harga tiket masuknya adalah Rp 60.000 dan kita mendapatkan roti bakar plus mango juice. Cukup mahal memang. Namun sepadan untuk sebuah malam yang spesial. Yaitu malam kembalinya Inter Milan ke Old Trafford mengulang sejarah yang ditorehkan sepuluh tahun lalu saat jala Gianluca Pagliuca dirobek Dwight Yorke, dua kali.
Sekitar pukul 02.30, lagu-lagu chant kebangsaan Manchester United berkumandang dan membuat wajah-wajah mengantuk yang tadinya menghiasi kafe redup itu ceria. Sesekali nampak sejumlah fans Manchester United turut berdendang. Tidak sedikit pula kaum hawa yang turut larut dalam menantikan pertandingan perdelapan final Liga Champions itu.

Pertandingan pun dimulai pada pukul 02.45. Kami semua menonton sebuah layar besar yang terletak di atas meja bartender. Pertandingan di ESPN pagi dini hari itu dipandu oleh Graeme Souness, eks bos Newcastle United, serta Glenn Hoddle, eks manajer tim nasional Inggris. Kafe pun sontak bergemuruh ketika gambar Old Trafford muncul di layar televisi seakan semua sudah menantikan aksi Manchester United menghancurkan impian Inter Milan.
The Big Match
Tidak banyak kejutan yang muncul di dalam leg kedua ini. Sir Alex Ferguson menurunkan skuad terbaiknya, terlepas dari posisi defender kanan. John O’Shea mengisi pos tersebut, yang memang beberapa saat sebelumnya digilir untuk Gary Neville, Wesley Brown, dan Rafael da Silva.

Bola baru saja bergulir selama empat menit waktu Nemanja Vidic melesakkannya ke jala Julio Cesar melalui sundulan. Sorak sorai riuh fans Manchester United menyemarakkan malam itu. Tidak terkecuali dengan saya yang nyaris tersedak roti bakar gara-gara gol dari Vidic terjadi terlalu cepat. Beberapa pelayan kafe pun meniupkan peluit untuk membuat suasana malam itu makin ramai saja. Satu kosong untuk Manchester United.
Gol sundulan memang bukan hal aneh bagi Manchester United ketika menjamu Inter Milan. Pada tahun 1999, dua kali sundulan Dwight Yorke dari umpan silang David Beckham mampu merobek jala Gianluca Pagliuca. Selain gol Vidic, gol berikutnya terjadi pada awal babak kedua juga berasal dari sundulan. Umpan pendek Wayne Rooney diceploskan oleh kepala Cristiano Ronaldo. Skornya dua kosong untuk Manchester United, yang berarti juga akhir untuk perjalanan Inter Milan.

Skor tersebut pun bertahan hingga permainan usai walau harus diakui Inter Milan kurang beruntung karena dua tembakan mereka membentur mistar gawang MU. Namun keberuntungan tetaplah bagian dari permainan. Toh Manchester United juga tampil lebih baik malam tadi. Kemenangan ini sekaligus menjadi sinyal supremasi Inggris di Eropa, setelah tiga klub Inggris lainnya juga berhasil menembus putaran perempatfinal.
Malam ini malam yang indah untuk Manchester United dan pendukungnya. Sukses mereka mampu menjadi inspirasi bagi kita. Tidak jarang kita melihat suatu pencapaian dan terheran-heran penuh rasa kagum. Jarang sekali kita menyadari bahwa proses jauh lebih penting daripada hasil. Jangan melihat apa yang mereka raih, namun lihat bagaimana mereka meraihnya.
Oh ya, jika anda berminat, lain waktu kita bisa nonton bareng.





kynya keren. sayang t’lalu mahal buat anak kos kaya gw.
@irfan
memang. tapi kan tidak setiap saat.