Selama jawabannya benar, siapa peduli apabila pertanyaannya salah? Review ini terlambat relatif lama gara-gara sejumlah masalah pribadi menguras waktu saya. Saya tetap menulis seperti biasa walaupun beberapa tulisan harus dituntaskan dengan cara dirapel seperti kemarin.

Yang unik akibat masalah tersebut, selama dua bulan belakangan ini saya menghindari buku-buku berbau teknis. Saya lebih banyak terjun dalam buku-buku self-help dan kisah-kisah inspiratif yang ringan untuk dibaca tiap hari. Salah satunya adalah buku horor berjubah sejarah karya almarhum Pramoedya Ananta Toer, bertajuk : Jalan Raya Pos, Jalan Daendels.
On Targeting
Pembuka bulan Desember 2008 kemarin adalah buku karangan Dahlan Iskan berjudul Pelajaran dari Tiongkok. Buku yang ditulis oleh CEO Jawa Pos ini mengutarakan tentang perjalanan seru nan inspiratif beliau ke negeri Tiongkok dengan segala kemajuan di sana.

Misalnya cerita jalur Beijing-Shanghai yang mengoperasikan kereta magnetic levitation berkecepatan 430 km/jam (berarti Solo-Bandung sanggup ditempuh dalam satu jam). Ada pula kisah arus orang-orang Taiwan pindah bekerja di Tiongkok, padahal suhu politik Tiongkok-Taiwan sedang panas. Atau mungkin tentang universitas-universitas yang giat memproduksi sarjana teknik, agak berbeda dengan negara kita yang mayoritas memproduksi sarjana sosial.
Buku ini sangat menarik dan inspiratif untuk dibaca, salah satunya dari sisi bagaimana pemerintah Tiongkok tidak hanya berusaha menumbuhkan ekonomi namun juga mengeremnya supaya tidak tercipta kesenjangan yang membebani rakyat kecil. Luar biasa. [skor : 8 / 10]
"Indonesia adalah negara budak. Budak di antara bangsa-bangsa dan bagi bangsa-bangsa lain."
Buku berikutnya adalah ialah buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels, karya Pramoedya Ananta Toer. Meskipun isinya sejarah, namun Pramoedya menuturkannya dengan sangat menarik walau beberapa kalimat terkadang provokatif. Ada 40-an kota yang dilewati jalan raya Anyer-Panarukan yang dibahas di buku ini.
Tulisan Pramoedya ini terasa seperti sebuah tur panjang menyusuri jalan raya yang dibangun oleh Daendels, dengan harga darah dan air mata rakyat nusantara. Di setiap kota kita diajak berhenti dan mendapatkan sedikit kisah sejarah di balik wilayah tersebut. Andaikan ini adalah buku diktat SMP saya, mungkin saya akan menggilai pelajaran sejarah. [skor : 7 / 10]
Jika yang menulis bukan Hermawan Kartajaya, mungkin saya tidak akan membacanya. Buku ini judulnya simple saja On Targeting. Buku ini dirancang sebagai sebuah bacaan ringan yang berisi kumpulan artikel semi-random dari Hermawan Kartajaya. Topik utama yang dibahas dalam buku ini adalah proses menentukan pasar yang tepat bagi produk kita.
Di dalam buku ini disajikan sejumlah contoh riil bagaimana perusahaan seperti Olympic menguasai pasar meubel kelas bawah, koran Suara Merdeka mendominasi pangsa pasar koran lokal di Jawa Tengah, hingga perusahaan tempat bernaung ayah saya, Konimex, menerapkan strategi judo di dalam menentukan sasaran penjualan. Ringan dan enak dibaca. [skor : 6 / 10]
Kicked by Andy
Haus akan inspirasi, buku Andy Noya boleh jadi jawabannya. Buku berjudul Andy’s Corner ini berisi kumpulan curahan hati Andy Noya di balik penayangan Kick Andy di Metro TV. Buku ini juga berkisah tentang latar belakang penulisnya yang merupakan anak seorang tukang servis mesin tik yang harus bergumul dengan kehidupan nan keras.

Sebagai sebuah talkshow berbobot, Kick Andy kerap dihujani badai masalah termasuk salah satunya ketika mengundang Mayor Alfredo Reinaldo. Banyak orang memprotes mengapa Kick Andy mengundang tokoh pemberontak yang sedang buron. Begitu pula hujan komentar bernada melecehkan yang banyak diterima setelah mengundang guest Kangen Band. Buku ini mengingatkan ke saya bahwa hal-hal yang bagi kita kecil mungkin besar bagi orang lain. Satu hal yang tidak saya suka : bukunya terlalu tipis. [skor : 7 / 10]
Buku terakhir yang saya selesaikan judulnya blatant banget, Agar Siapa Saja Mau Berdamai dengan Anda. Saya tidak tahu mengapa saya mengambilnya dari rak buku di Gramedia, namun buku ini tidak mengecewakan saya. Meskipun sah-sah saja saya bilang tulisan David J. Lieberman ini juga tidak terlalu berkesan.
Inti dari buku adalah bagaimana meredakan konflik dengan berbagai tipe orang. Walaupun apabila disederhanakan, konflik dengan siapapun sanggup diselesaikan dengan komunikasi yang baik dan sikap respek. Singkat. Buku ini berisi banyak panduan yang bisa membantu anda dalam banyak hal, terutama di dunia kerja dan lingkungan keluarga. [skor : 8 / 10]





Cuma mau bilang : nice to have you back on blog, wir!
anggaran beli buku tiap bln brp wan?
@Putri Chairina
iya, Mbak!
@asri
nggak ada anggaran khusus, maybe sekitar Rp 200.000 per month.