Seiring dengan masa transisi, blog ini menjadi kurang terawat. Mulai hari ini, saya sudah kembali menulis seperti biasa. Targetnya adalah dua tulisan per minggu. Tulisan ini menjadi seri berikut dari pelajaran hidup yang saya peroleh sepanjang bulan Februari 2009.

Dua hari yang lalu saya baru saja menyelesaikan bimbingan tahap satu bagi calon representatif IT Telkom di kompetisi nasional. Ada sekitar 15 tim, atau sekitar 60 orang, yang harus saya tangani bersama dengan Leonardi. Sekarang saatnya melepas tekanan itu, sudah waktunya saya kembali mencurahkan sejumlah pemikiran. Pemikiran dangkal.


[baca selengkapnya]

Kategori: Thought | Insight
 

Percaya tidak percaya, tak semua orang menganggap pengembangan diri itu baik. Komentar dari seorang teman sempat membuat saya berpikir. Ucapnya, "Ngapain harus susah-susah memasang target ini dan itu? Hidup itu mengalir. Just enjoy your life and be yourself!"

Konflik antara pengembangan diri dan penerimaan diri sekilas terdengar dungu. Namun begitulah kenyataannya. Ini adalah suatu realita yang selama ini bahkan tidak terpikirkan oleh saya. Malam tadi saya mencoba untuk menggali lebih dalam kedua konsep ini. Manakah yang lebih baik antara menerima diri apa adanya dan mengembangkan diri? Bisakah keduanya selaras?


[baca selengkapnya]

Selama jawabannya benar, siapa peduli apabila pertanyaannya salah? Review ini terlambat relatif lama gara-gara sejumlah masalah pribadi menguras waktu saya. Saya tetap menulis seperti biasa walaupun beberapa tulisan harus dituntaskan dengan cara dirapel seperti kemarin.

Yang unik akibat masalah tersebut, selama dua bulan belakangan ini saya menghindari buku-buku berbau teknis. Saya lebih banyak terjun dalam buku-buku self-help dan kisah-kisah inspiratif yang ringan untuk dibaca tiap hari. Salah satunya adalah buku horor berjubah sejarah karya almarhum Pramoedya Ananta Toer, bertajuk : Jalan Raya Pos, Jalan Daendels.


[baca selengkapnya]

Kategori: Books | Review