Semasa sekolah dulu pernah ada lelucon celetukan guru saya. Siswa yang nilainya kurang silakan mendaftarkan diri di UGM cabang Wonogiri, alias Universitas Gajah Mungkur. Lelucon itu agaknya bernada melecehkan apabila kita lihat dari konteksnya.

Saya bilang melecehkan karena Gajah Mungkur adalah area yang terletak di Gunung Seribu, yaitu wilayah pegunungan cadas yang (dulunya) tandus dan melarat. Daerah kering tersebut dikelilingi oleh bukit-bukit kapur yang susah ditanami. Pemerintah Orde Baru pun memutuskan turun tangan untuk membangun danau buatan seluas 9000 hektar di wilayah tersebut pada tahun 1978.
The History
Sebenarnya proyek tersebut cukup beralasan. Presiden Soeharto menghabiskan masa kecilnya di Desa Wuryantoro yang terletak tidak jauh dari situ. Jadi bukan hal aneh apabila wilayah ini lantas mendapatkan porsi pembangunan yang amat besar. Proyek gigantik ini mengubah wajah Wonogiri dari wilayah gersang menjadi pusat pengairan Karesidenan Solo. Taraf hidup masyarakat Wonogiri pun melonjak dan berimbas ke kabupaten-kabupaten di sekitarnya.

Namun bukan Orde Baru namanya, jika tidak memakan ‘korban’. Di balik kisah sukses proyek ini ribuan penduduk dipindahkan secara paksa melalui program transmigrasi bedol desa ke provinsi Lampung. Desa mereka pun kemudian ditenggelamkan oleh air Bengawan Solo yang dibendung.
Sama seperti film The Day After Tomorrow. Tapi beneran.

Ketika air surut, kita bisa melihat atap-atap rumah menyembul dari permukaan air.
Sekarang Waduk Gajah Mungkur tidak sekedar menangani pengairan, namun juga menjadi resort wisata unggulan Kabupaten Wonogiri. Selain wisata perahu dan mancing, di sisi waduk bertebaran rumah makan dengan menu unggulan ikan bakar.
Jika anda tidak suka ikan bakar, tidak perlu khawatir. Mengingat kemajuan Wonogiri yang cukup pesat, saya yakin beberapa dekade lagi bakal ada Dunkin Donuts di tepi waduk.
Kemarin, saya berkunjung ke Wonogiri untuk kesekian kalinya.
The Journey
Wonogiri terletak sekitar 30 kilometer di sebelah tenggara kota Solo. Sementara Waduk Gajah Mungkur sendiri terletak sekitar tiga kilometer dari pusat kota. Untuk mencapai waduk, mau tidak mau kami harus berkendara membelah bebatuan cadas sambil sesekali berpapasan dengan sopir omprengan (angkudes) yang minta dihajar.

Selang beberapa saat, di kiri jalan akan nampak waduk yang terbentang sangat luas. Sejumlah rumah makan dibangun di tepi gunung, dengan pemandangan waduk di bawahnya. Kondisi rumah makan yang eksis di sana pun boleh dibilang cukup lumayan. Rata-rata bahkan sudah mempunyai halaman parkir mobil yang cukup luas. Walaupun sebenarnya di pegunungan kapur anda boleh naruh mobil di mana saja.

Dari situ kita dapat melihat waduk yang membentang dari sisi gunung. Sementara perahu-perahu kecil nampak berseliweran di tengah-tengahnya. Pada musim kemarau, udara di daerah ini sangat panas dan kering. Namun pada musim hujan, hawanya relatif sejuk.
The Visit
Akhirnya kami pun memutuskan untuk berhenti di salah satu rumah makan. Tidak seperti yang dibayangkan, bangunannya ternyata cukup bagus dan bersih.
Yang lebih seru, menu yang mereka tawarkan pun relatif lengkap. Tidak hanya masakannya yang lumayan, harganya pun sangat murah. Untuk sembilan ekor ikan ditambah sebakul nasi dan enam gelas minuman dingin, bisa anda tebus dengan Rp 125.000. Setara dengan seporsi salmon di The Valley, yang artinya harga seekor ikan di Wonogiri lebih murah daripada sepotong kentang.

Meskipun ikan yang ditawarkan cukup variatif, namun semua itu tergantung persediaan. Maklum mereka harus mancing sendiri untuk mendapatkan ikan-ikan yang diminta. Biasanya yang banyak adalah ikan nila. Para pemancing sering juga mendapatkan sejenis cychild namun entah mengapa tidak pernah dijual di restoran. Kan lumayan kalau ada Lou Han bakar.

Sepulang dari situ, jangan lupa membawa oleh-oleh. Ada banyak makanan ndeso dengan cita rasa kutho yang dijual di sana. Salah satunya adalah Tempe Kripik Dele-nya Mbak Yuni. Atau mungkin anda berminat dengan ikan wader. Ikan kecil yang digoreng ini bisa anda dapatkan dengan harga murah per kantongnya.
The Aftermath
Menjelang kembali ke Solo, hujan turun. Kabut pun menyelimuti waduk sehingga pemandangan Pegunungan Seribu terlihat buram. Pemandangan saat itu benar-benar memikat. Jauh lebih bagus daripada di foto. Buktinya anak-anak kecil di sebelah saya teriak-teriak gak karuan seperti habis ngerampok Sinterklas.

Hujan deras tidak menyurutkan niat kami untuk pulang. Sambil mendengarkan lagu-lagu klasik yang diputar di mobil, saya menyeleksi ulang foto-foto yang saya jepret tadi. Tentu saja beberapa gambar yang terbaik sudah saya siapkan untuk dipasang di blog ini.

Oh ya, jika anda berkunjung ke Solo nanti, jangan lupa untuk meluangkan waktu ke Wonogiri.





hmmm… enaknya jalan2 pas liburan, jadi pengen cepet2, pulang juga nih…
@MadeJunes
iya yah. di Bali banyak tempat yang bagus.
yaelah, dibandingin ma the valley
the valley mah tempat buang2 duit
@asri
buanglah duit pada tempatnya.