Libur itu tidak selalu enak. Paling tidak enak libur yang dipaksakan. Katakanlah anda masih punya satu kerjaan yang harus tuntas sehabis libur. Jumlah kerjaan tetap, sementara waktunya terpaksa dipepetkan karena terpotong libur. Bukankah liburan malah bikin beban?

Solusi gampang? Ya nggak usah liburan, kata mereka. Bukan masalah jika urusan pribadi. Namun jadi masalah ketika libur Natal kali ini didapuk sebagai urusan keluarga. Sejak pindah ke Bandung saya selalu merayakan Natal dan Tahun Baru di kota ini. Sendirian. Ditemani compiler. Menantikan ujian semester yang, sialnya, selalu tiba pada minggu pertama Januari.
Christmas Eve
Tahun ini agaknya berbeda. Saya berencana untuk melewatkan liburan akhir tahun di kampung halaman saya di Solo. Berarti ini adalah akhir dari trilogi liburan Natal dan Tahun Baru yang selalu saya habiskan di Bandung selama tiga tahun terakhir.
Saat saya masih belajar di sekolah swasta yang dikelola yayasan Katholik, Pangudi Luhur, liburan Natal dan Tahun Baru menjadi satu rangkaian yang panjang. Kadang dimulai tanggal 19 Desember dan baru berakhir sekitar tanggal 6 Januari.
Sudah jadi semacam tradisi keluarga dan teman-teman saya merayakan Natal. Cara perayaannya pun variatif, mulai dari yang fundamental seperti ibadah Natal di gereja, hingga yang tidak relevan seperti barbeque party. Tidak jarang pula kami meluangkan sedikit waktu untuk mendekor hiasan kerstboom, memasang mistletoe, dan makan malam bersama.
Namun semenjak pindah ke Bandung tiga tahun lalu, saya terpaksa kehilangan kesempatan untuk melakukan hal yang sama. Pesta Natal dihabiskan bersama teman-teman di gubuk Pizza. Suasana Natal pun terasa ala kadarnya, tak ubahnya pesta hangout malam minggu. Hanya bedanya kali ini ditemani sosok sinterklaas, dan kadang zwarte piet, yang bertebaran di mana-mana.
Sejak tiga tahun lalu pulalah saya mendapatkan libur Lebaran yang lebih lama daripada libur akhir tahun. Liburnya lumayan lama, bisa tiga minggu. Meskipun tidak memaknai, saya ikut merayakan dengan mudik ke kampung halaman. Toh tiada salahnya ikut senang ketika orang lain senang.
Lagipula anak mana sih yang nggak mau dikasih libur?
Feliz Navidad
Gara-gara kalender saya yang berbeda dengan seluruh anggota keluarga itulah saya kerap jadi bahan ledekan: "Kok pulang sekarang, Natal kan masih tiga bulan?" atau "Pulang kampung? Kamu mau ngerayain apa?". Saya hanya ketawa kecil. Sesekali menjawab, "Lagi ngerayain hari libur."
Ya, hari libur kan bisa juga dirayakan.
Berbeda halnya dengan liburan Natal yang satu ini. Saya sebenarnya tidak libur. Kampus saya, IT Telkom, memberikan jatah libur tanggal 25, 26, 28 (minggu), dan 1. Artinya ada satu hari Sabtu kejepit di situ, ditambah tiga hari kuliah biasa.
Bagi anak yang sering bolos seperti saya, seharusnya ini bukan dilema. Masalah menjadi lumayan pelik karena ‘cuti’ yang saya ambil ini bertepatan dengan akhir semester. Artinya, proyek-proyek semester ada di ambang batas pengumpulan.
Tentu saja ini harus disikapi dengan re-scheduling yang mantap. Hari ini dari pukul 07.00 sampai pukul 16.00, saya menyelesaikan tugas kuliah Bahasa Inggris yaitu pembuatan film pendek. Saya mau tidak mau harus menyelesaikan semua adegan syuting hari ini karena hari Selasa esok saya sudah tidak di Bandung lagi. Jadilah kami bekerja kejar tayang untuk deadline Januari.
Selain itu saya masih menyisakan dua tugas kuliah yang harus saya tuntaskan besok. Ditambah dengan kampanye Imagine Cup pada hari Senin. Lha, mau libur kok malah repot?
Saya terlanjur berjanji pada keluarga. Akhir tahun ini adalah hari raya buat saya. Bagaimana jika hari raya tidak libur? Ya terpaksa saya meliburkan hari raya yang saya rasa masih lebih untung daripada merayakan hari libur. Bukan begitu?





kuliah di ITT emang selalu jadi dilema wan… btw, met Natal n Tahun Baru…
@MadeJunes
hehe… yang jadi jadi masalah itu kan bukan ITT, tapi saya. Ini kan sudah konsekuensi.
mang kamu natalan ya wan?
natal ato libur? natalan ini ke greja nggak?
lw malam natal mah malah perayaan ultah si…
@w@y
ya ntar paling nyari bingkisan natal di gereja. kalo pas ada bagi-bagi.