Tepat satu tahun silam saya membawakan sebuah seminar di Universitas Padjadjaran. Acara itu memang tidak ada hubungannya dengan HIV/AIDS. Namun saya ingat benar, pada waktu itu saya diminta tim panitia untuk berbicara dengan mengenakan pita merah.

Pita merah adalah sebuah ungkapan solidaritas terhadap para pengidap HIV/AIDS. Hari ini dunia kembali memperingatinya. Ada berbagai jenis kegiatan yang dilakukan sebagai bentuk partisipasi kita pada Hari AIDS Sedunia ini. Bagi saya, cara paling sederhana untuk berpartisipasi dalam melawan AIDS adalah dengan tidak menjadi salah satu korbannya.
About AIDS Day
Kedengarannya bodoh. Memang. Namun andai setiap orang di dunia berusaha membentengi diri untuk tidak menjadi korban AIDS maka otomatis angka penyebarannya dapat ditekan.
Saat ini ada lebih dari 32 juta pengidap virus HIV. Angka yang tiap hari terus meningkat. Dua juta di antaranya adalah anak-anak berusia di bawah 15 tahun.
Penyakit AIDS butuh waktu sekitar 10 tahun sebelum membunuh korbannya. Justru karena itulah penyakit ini sangat berbahaya, jangka waktunya panjang. Andaikan korban yang kena AIDS satu hari langsung mati justru penyakit ini tidak akan menyebar ke mana-mana.
Hari AIDS Sedunia mengundang tiap-tiap orang yang peduli untuk berpartisipasi. Ada banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mencegah penyebaran penyakit mematikan ini.

Di luar sana, sekelompok mahasiswa membagi-bagikan kondom. Untuk meningkatkan awareness publik terhadap AIDS, kata mereka. Sementara di dalam situ, sekelompok mahasiswa yang punya pandangan lain menolak aktivitas tersebut karena dianggap mendorong pergaulan bebas. Sah-sah saja mereka berbeda pendapat. Namanya beda kepala tentu saja boleh beda pikiran.
Saya tidak akan memperdebatkan hal itu. Saya lebih suka memandang permasalahan ini dari sisi kemanusiaan daripada dari sisi keyakinan.
The Discrimination
Masalah besar yang dihadapi para pengidap HIV/AIDS adalah diskriminasi. Sebuah surat kabar di Tiongkok melaporkan banyak pengidap HIV/AIDS meninggal dunia tanpa mendapatkan perawatan di rumah sakit. Hal itu disebabkan mereka tidak mau melapor ke rumah sakit. Mereka takut orang lain tahu bahwa mereka adalah pengidap HIV/AIDS.
Tidak dipungkiri bahwa terdapat banyak penolakan terhadap pengidap HIV/AIDS. Mereka mungkin saja kehilangan teman, pekerjaan, atau bahkan pengakuan masyarakat.
Lebih menyedihkan, masyarakat kerap memperlakukan pengidap HIV/AIDS layaknya kriminal.
Pada tahun 1998, seorang pengidap HIV/AIDS bernama Gugu Dlamini dilempari batu hingga tewas oleh para tetangganya. Hal itu terjadi beberapa hari setelah Dlamini memberitahukan penyakitnya pada sebuah forum AIDS di Afrika Selatan.
Ada beberapa penyebab stigma negatif terhadap para pengidap HIV/AIDS, misalnya :
- AIDS adalah penyakit yang berbahaya.
- AIDS adalah penyakit kelamin. Penyakit kelamin identik dengan kerusakan moral.
- AIDS adalah akibat gaya hidup tidak benar. Hal ini tidak sepenuhnya tepat, karena virus HIV juga bisa menular lewat luka goresan atau transfusi darah.
- Adanya mitos-mitos tentang cara-cara penularan AIDS.
Kebetulan saya mengenal salah satu dari antara mereka. Saat itu pulalah saya menyadari bahwa perhatian dari orang-orang yang dia kenal adalah hal yang paling dia harapkan.
Pesan saya : jaga diri baik-baik, berpartisipasilah dengan cara mencegah diri anda tertular.
Artikel ini ditulis bertepatan dengan World AIDS Day. Saya terpaksa menulis cepat-cepat karena banyak tugas-tugas kuliah yang masih antre di briefcase. Ciao!





stand up against AIDS!
lupa kalo kmarin tuh hari AIDS ~_~
(Pas banget ngebuka ini topiknya hari AIDS)
@lydia
yup!
@wulunkz
bukannya di jalan banyak yang bagi-bagi bunga, brosur, dan pita?
“bukannya di jalan banyak yang bagi-bagi bunga, brosur, dan pita? ”
ada yang bagi2 mentahanya aja nggak? :-P
@w@y
ono, tapi koe njoged sik gon tengah ratan.
aids ??? artinya bantuan kan ???
aid, pertolongan. kamus bilang begitu
tapi kalo AIDS, wah .. kayaknya sih ngeri ya .
eh, kalo keringat si penderita AIDS bisa menular gak ??
@iaksz
menular baunya maybe.
yeah. aid itu bantuan