Usah menyoal ending yang baik atau buruk. Sebentar lagi tirai akan diturunkan. Sudah jadi tugas sang protagonis untuk menutupnya. Ketika tirai terangkat lagi nanti, kita mulai chapter baru. Yang telah lesap ditelan waktu kita tingalkan. Mari melangkah menuju ke yang baru terbuka.

Setidaknya bagi saya seorang, 2008 adalah tahun yang penuh warna. Mengevaluasi, atau sebatas mengenang kembali, memang bukan suatu kewajiban. Saya melakukannya tidak kurang sebagai sebuah penghormatan kepada si anteseden. Lewat tulisan ini, saya akan mengajak anda merekap perjalanan saya sepanjang tahun ini. Inilah Flashback 2008 : A Year In Review.
Semasa sekolah dulu pernah ada lelucon celetukan guru saya. Siswa yang nilainya kurang silakan mendaftarkan diri di UGM cabang Wonogiri, alias Universitas Gajah Mungkur. Lelucon itu agaknya bernada melecehkan apabila kita lihat dari konteksnya.

Saya bilang melecehkan karena Gajah Mungkur adalah area yang terletak di Gunung Seribu, yaitu wilayah pegunungan cadas yang (dulunya) tandus dan melarat. Daerah kering tersebut dikelilingi oleh bukit-bukit kapur yang susah ditanami. Pemerintah Orde Baru pun memutuskan turun tangan untuk membangun danau buatan seluas 9000 hektar di wilayah tersebut pada tahun 1978.
Yang namanya personal blog, mau diisi apa sudah barang tentu suka-suka yang punya. Ada yang bilang blog itu harus punya topik spesifik. Nge-niche. Biar trafik-nya tinggi, kata orang. Namun ada juga yang tidak peduli dengan trafik. Pokoknya nulis senulis-nulisnya.

Saya bisa dibilang tipe yang kedua. Saya tidak peduli yang baca cuman satu orang atau setengah milyar orang. Yang penting bisa berbagi. Hosting gratisan. Tanpa iklan. Segalanya sederhana. Soal topik, blog gado-gado bukan berarti brutal dalam memilih topik. Ada beberapa topik favorit yang hingga saat ini belum pernah (atau tidak akan pernah) saya bahas di blog ini.
Libur itu tidak selalu enak. Paling tidak enak libur yang dipaksakan. Katakanlah anda masih punya satu kerjaan yang harus tuntas sehabis libur. Jumlah kerjaan tetap, sementara waktunya terpaksa dipepetkan karena terpotong libur. Bukankah liburan malah bikin beban?

Solusi gampang? Ya nggak usah liburan, kata mereka. Bukan masalah jika urusan pribadi. Namun jadi masalah ketika libur Natal kali ini didapuk sebagai urusan keluarga. Sejak pindah ke Bandung saya selalu merayakan Natal dan Tahun Baru di kota ini. Sendirian. Ditemani compiler. Menantikan ujian semester yang, sialnya, selalu tiba pada minggu pertama Januari.
Kata pepatah Barat itu adalah hal yang seyogyanya tidak kita lakukan. Generasi MTV bilang never judge a book from its cover. Yang boleh kita artikan : jangan pernah menilai buku dari sampulnya atau jangan menilai seseorang dari penampilannya.

Beda Barat, beda pula Timur. Di Tiongkok Kuno, ada ilmu membaca wajah. Orang-orang Tiongkok percaya bahwa sifat seseorang dapat diprediksi dari wajahnya. Mungkin karena ada darah Timur itulah, saya sering terusik dengan buku-buku "berwajah" bodoh. Persetan dengan celoteh orang Barat. Tulisan kali ini menampilkan beberapa buku bodoh, jika kita nilai dari sampulnya.
Dibikin Nempel. Saya paham kenapa buku ini judulnya tidak diterjemahkan seperti itu. Made to Stick karangan Chip Heath ini adalah satu dari enam buku yang saya baca bulan Oktober yang lampau. Resensinya terlambat karena memang ada satu buku yang baru kelar tadi pagi.

Sekedar info. Nggak ada hubungan dengan yang saya baca, anda bisa mampir ke Toko Buku Toga Mas di Jalan WR Supratman 45, Bandung. Toko buku itu menawarkan diskon sekitar 15%, malah pernah ada yang sampai 30%. Koleksinya juga lumayan banyak. Jadi kalau ada buku yang tidak berhasil ditemukan di Pasar Buku Palasari, coba meluncur ke situ.
Tepat satu tahun silam saya membawakan sebuah seminar di Universitas Padjadjaran. Acara itu memang tidak ada hubungannya dengan HIV/AIDS. Namun saya ingat benar, pada waktu itu saya diminta tim panitia untuk berbicara dengan mengenakan pita merah.

Pita merah adalah sebuah ungkapan solidaritas terhadap para pengidap HIV/AIDS. Hari ini dunia kembali memperingatinya. Ada berbagai jenis kegiatan yang dilakukan sebagai bentuk partisipasi kita pada Hari AIDS Sedunia ini. Bagi saya, cara paling sederhana untuk berpartisipasi dalam melawan AIDS adalah dengan tidak menjadi salah satu korbannya.






