Pada tahun 1904, seorang ekonom Italia bernama Vilfredo Pareto mengungkap bahwa 80% uang di Italia dimiliki oleh 20% orang terkaya. Pandangan itu digeneralisasi oleh Joseph Juran, seorang ekonom Romania, ke berbagai kasus bisnis, khususnya quality management.

Menurut Juran, rasio 80-20 itu menjadi semacam rule of thumb (patokan) di dalam banyak kasus bisnis. Misalnya : 80% pendapatan kita berasal dari 20% cabang usaha kita, 80% dari waktu kita dihabiskan untuk melayani 20% klien kita, dan sebagainya. Simplifikasi yang boleh dibilang kasar dan (menurut saya) ngawur, namun ternyata banyak manfaatnya.
Our Daily Life
Prinsip simplifikasi 80-20 Pareto, demikian saya menyebutnya, pertama kali saya sadari sewaktu merancang software. Bahwa 80% waktu saya habiskan untuk terfokus pada sesuatu yang hanya menghasilkan 20%, sementara 20% sisanya malah menentukan 80%.
Belum ngerti? Begini contohnya…
Di sekolah, proporsi nilai semua mata pelajaran itu sama. Namun tidak jarang kita menghabiskan 80% waktu belajar kita untuk belajar mata pelajaran yang susah seperti Fisika dan Kimia. Padahal Fisika dan Kimia itu hanya 20% dari total nilai rapor kita. Nangkep kan?
Nah, seandainya target kita adalah mendapatkan nilai rapor yang bagus. Bukankah seharusnya kita justru berkonsentrasi ke yang 80%?
Saya tahu, memang tidak bisa disederhanakan segampang itu. Makanya tadi saya bilang prinsip simplifikasi ini lumayan ngawur. Namun jika kita menyadarinya, kita bisa memetik manfaat yang sangat besar. Pertama kita analisis dulu mana tugas yang paling banyak makan waktu, kemudian kita lihat apakah bagian itu bener-bener sudah worth waktu kita? Jika tidak, kita harus mengubah fokus pekerjaan. Dengan demikian kita bisa meningkatkan value hasil kerja.
Lalu apa urusannya dengan kehidupan sehari-hari?
Masalah utama dari prinsip ini : kita kerap tidak menyadarinya (atau meremehkannya). Selama ini kita cenderung terfokus ke bagian yang 20% itu.
Cobalah anda bersihkan 80% lantai yang penuh lumpur, kemudian tinggalkan 20% sisanya. Orang yang lewat akan bertanya : "Kenapa kok kamu tidak membersihkan yang 20% itu?". Mereka tidak mungkin berkata : "Hebat! Kamu sudah membersihkan 80% lantai!"
Good and Bad
Prinsip ini juga yang mengingatkan saya kepada kehidupan. Sadarkah kita bahwa 80% kehidupan kita sehari-hari itu sebenarnya penuh dengan hal-hal baik, sementara 20% sisanya tidak? Namun jika dalam satu hari kita melayani 4 konsumen yang ramah dan 1 konsumen yang menyebalkan bukankah saat makan malam kita cenderung membahas yang 1 orang itu?
Terlalu banyak waktu, energi, pikiran, dan pembicaraan kita curahkan untuk mengurusi hal-hal kecil yang hanya 20% itu. Sementara itu hal-hal yang sebenarnya lebih besar kita abaikan.
Nah, pesan yang ingin saya sampaikan di sini adalah : Setiap kali anda merasa gelisah, cobalah pikirkan ulang apakah masalah itu benar-benar pantas mendapatkan kekhawatiran anda? Apakah benar masalah itu bernilai 80% dari waktu anda? Apakah kita membesar-besarkan masalah?
Lucunya, di dalam kebanyakan kasus yang pernah saya alami (memang tidak semuanya) ternyata pandangan saya berlebihan. Kita suka membuat masalah kecil kelihatan besar.
Sekarang coba pikirkan ada orang yang lupa mematikan televisi. Atau pikirkanlah seseorang yang menumpahkan nasi di dapur. Semakin lama dan semakin dalam kita pikirkan, sesuatu itu semakin kelihatan penting. Padahal sebenarnya nggak penting!
Dengan menghindari pikiran hal-hal buruk (yang sebenarnya hanya bagian kecil kehidupan), kita bisa mengurangi stress. Mulai sekarang pikirkanlah hal-hal yang baik. Jadikan hal-hal baik sebagai bahan pembicaraan, syukuri apa yang anda miliki, dan jangan biarkan masalah 20% itu mengusik hal-hal baik yang 80% dari hidup anda. Oke?
PS : Artikel ini ditulis "on the fly" alias spontan atau tanpa ide dasar apapun. Tadinya saya hanya kebetulan visit blog ini dan langsung mengetik hal yang pertama nyasar di pikiran saya.





hmm…
ya, seperti kata sherlock, jika kamu stuck di suatu kasus, lihatlah dari apa yang kamu anggap tadinya tidak penting…
jadi,, mungkin sekarang akan saya anggap, semua pelajaran di sekolah adalah penting. Entah suka atau tidak suka

*semakin bingung
@seishiro
hehe… penting atau tidaknya suatu masalah kadang justru relatif terhadap sang pelihat.
kabarnya 80% sumberdaya yang ada di dunia, dikonsumsi oleh warga negara maju yang jumlahnya hanya 20% dari total penduduk dunia. Benarkah? :shock:
Hidup tanpa masalah .. tidak akan mengalami kesempurnaan .. tapi jangan biarkan masalah berlalu begitu saja.. itu penting jg..
http://www.asephd.co.cc
@nonadita
mungkin juga bener kalo dibulatkan sekitar 80:20
tapi entahlah… yang jelas makin terlihat kesenjangan di antara umat manusia.
@Kaka
gimana kalo kaya pegadaian aja… menyelesaikan masalah tanpa masalah
blog yang “menyegarkan” memberi inspirasi untuk saya … salam
@tow
terima kasih.
Probstat penting gk kak :roll eyes:
Hebat bnget kak idenya..
Keep posting kak!
@wulunkz
hei, probstat itu penting.
Bagaimana caranya? menerapkan prinsip pareto dalam hal perdagangan?