Tidak harus prajurit. Semua orang bisa jadi pahlawan. Kemarin saya nampang di dalam sebuah talkshow di hadapan para mahasiswa baru angkatan 2008. Yang lucu, dan agak berlebihan, tajuk acaranya adalah : Perkenalan Pahlawan IF Beserta Hasil Karya Juangnya.

Acara yang juga diisi oleh Bapak Romi Satria Wahono itu isi utamanya adalah memberi gambaran kepada mahasiswa baru tentang dunia informatika. Selama kurang lebih satu jam, saya bersama Leonardi, Mirza, dan Amel dicecar pertanyaan-pertanyaan yang insinyur NASA pun kayanya nggak bakal bisa jawab. Hehehe… Berikut ini sedikit cerita tentang acara kemarin.


Promising Generation

Ketika masih di Jogjakarta, Bapak Agus Ahmad, dosen pembimbing Gladi saya, sempat bercerita soal angkatan 2008. Salah satunya adalah tentang peningkatan jumlah pendaftar dan persentase mahasiswa yang mendaftar ulang. Ada sinyalemen bahwa sekarang IT Telkom sudah tidak lagi dinomorduakan oleh calon mahasiswa baru.

Sebagai angkatan pertama IT Telkom (yang dulu STT Telkom), saya menganggap angkatan 2008 sebagai the promising generation. Itulah mengapa saya menanggapi undangan dari panitia MABIM 2008 untuk tampil di acara kemarin dengan penuh antusiasme.

Padahal malam minggu, seperti biasa, saya dugem hangout bersama teman-teman (foto sebagai bukti kriminal). Lewat tengah malam kami baru pulang, sementara saya masih punya beberapa tugas. Akibatnya sampai subuh saya nggak sempat tidur.

Akhirnya saya terpaksa menjalani talkshow dengan mata mengantuk. Ternyata Mirza lebih parah karena dia belum mandi dan masih memakai piyama tidur! Pembelaan kami : orang jenius emang nyentrik, jadi mohon dimaklumi.

Kami tampil di GSG, di hadapan sekitar 300-an mahasiswa baru. Ada beberapa puluh pertanyaan yang diajukan. Semuanya susah dan seharusnya perlu diskusi yang panjang.

We Are Riddle Nuts

Salah satu pertanyaan yang bikin Leonardi shock adalah : "Bagaimana cara mengatur waktu untuk kuliah dan kompetisi?" Satu-satunya jawaban yang melayang di otak saya waktu itu : "Saya juga mau tanya itu." Untungnya itu bukan pertanyaan untuk saya.

Jujur saja mengatur waktu kuliah dan kompetisi adalah hal yang sulit. Mau tidak mau kita harus mengorbankan salah satu. Apapun yang menjadi pilihan kita, sepenuhnya adalah tanggung jawab kita sendiri. Yang terpenting adalah self-discipline dan time management yang bagus. Itu adalah satu-satunya solusi yang saat ini sedang saya perjuangkan.

Beberapa pertanyaan lainnya :

Apa yang harus dilakukan para insan IT di Indonesia di masa depan?

Di dunia IT, Indonesia belum merdeka. Kita perlu lebih banyak engineer, bukan user. Mayoritas insan IT di Indonesia pun masih sebatas implementer produk asing (jago Flash, jago Java, jago Oracle, dan sebagainya). Harus ada anak Indonesia yang (kata Mirza) mau berjuang membangun sendiri basis-basis IT itu kelak, bukan yang sekedar anak muda yang bangga karena bisa beli HP terbaru buatan Amerika.

Selain itu perlu digalakkan semangat open-source yang baru. Saat ini orang Indonesia memakai open-source hanya karena gratis. Padahal, "gratisan" hanyalah secuil esensi open-source. Tidak terbatas di dunia propertiary, di dunia open-source pun kita masih sebatas pengguna setia. Belum terkenal sebagai kontributor aktif, apalagi kreator. Termasuk saya sendiri.

Ketika IT menjadi semakin esensial, independensi pun semakin menjadi suatu keharusan.

Kenapa banyak ahli IT Indonesia yang bekerja di luar negeri?

Ini pertanyaan untuk Leonardi, yang sebenarnya lebih cocok ditanyakan kepada Presiden. Alasan utama pekerja IT lebih suka bekerja di luar negeri adalah karena mereka merasa lebih dihargai di sana, baik secara upah maupun pengakuan. Selain itu, minimnya fasilitas research di Indonesia membuat mereka tidak melihat Indonesia sebagai tempat yang baik untuk berkembang.

Pemrograman itu lebih penting logika atau kreativitas?

Dua-duanya penting. Namun yang terpenting adalah usaha. Semangat pantang menyerah untuk terus belajar jauh lebih penting daripada bakat. Toh, saya sendiri bukanlah orang yang jenius.

Proporsi antara logika dan kreativitas sendiri sebenarnya bergantung kepada permasalahan yang kita hadapi dan paradigma yang kita gunakan. Misalnya kita berkutat di algoritma dan kecerdasan buatan tentu lebih penting logika. Namun jika kita banyak berkutat di desain, misalnya dengan pemrograman bahasa XAML, maka kreativitas lebih banyak bermain.

 

Ada segudang pertanyaan lain, yang tidak saya tulis. Saya senang karena mahasiswa angkatan 2008 ternyata sangat kritis dalam mengajukan pertanyaan. Sayangnya saya sendiri tidak punya foto acaranya, kayanya sih harus minta ke panitia setelah ini.

 

Ada 6 Komentar | Tambahkan Komentar

  1. heeee..!!!

    Aku udah mandi….!

     
    Gravatar Image

    — September 13, 2008 :: 8:53 am

  2. @Mirza
    kayanya kamu pulang lari pagi langsung ke sana deh…

     
    Gravatar Image

    — September 13, 2008 :: 3:53 pm

  3. hihihi..
    ternyata..
    saya salah satu peserta mabim yang hadir dsana loh kak.. (lo, emang knapa?)

     
    Gravatar Image

    — September 16, 2008 :: 5:12 am

  4. @bobby ananta
    bagus lah. dulu aku malah nggak ikut Mabim.

     
    Gravatar Image

    — September 16, 2008 :: 6:27 am

  5. aku malah datangnya pas ODT thok.

     
    Gravatar Image

    — September 16, 2008 :: 5:52 pm

  6. @suryo pranoto
    itulah angkatan 2005.

     
    Gravatar Image

    — September 16, 2008 :: 9:21 pm

 



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.