Tidak salah jika orang bilang bangsa Jepang itu punya dedikasi tinggi. Barusan saya menemukan artikel yang sangat menarik. Isinya tentang Hiroo Onoda, seorang letnan Jepang yang melakoni Perang Dunia II selama hampir 30 tahun.

Membaca judulnya saja mungkin membuat kita mengernyitkan dahi. Diawali dari invasi Jepang ke Cina Daratan (1939) hingga jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki (1945), efektif Perang Dunia II hanya berlangsung selama enam tahun. Lalu bagaimana bisa sang serdadu menjalani pertempuran selama tiga puluh tahun?
Commander’s Message
Usianya kala itu masih 23 tahun. Hiroo Onoda termasuk di antara serdadu-serdadu Jepang yang diterjunkan ke Pulau Lubang, sebuah pulau kecil di barat Filipina. Menjelang keberangkatan, sang komandan menegaskan kepada mereka : "Kalian dilarang menyerah pada kematian. Entah tiga tahun atau lima tahun, kami akan kembali untuk menjemput kalian. Bertempurlah hingga saat itu dan bahkan jika pasukanmu hanya tinggal satu orang. Jika di sana hanya ada kelapa, hiduplah hanya dengan kelapa. Tidak ada alasan untuk menyerah atau mengakhiri hidup!"
Onoda memegang teguh janji sang komandan. Hingga 29 tahun kemudian.
Beberapa bulan kemudian, tentara sekutu menyerang pulau tersebut. Onoda dan teman-temannya terpukul mundur. Mereka tercerai-berai dan melarikan diri ke dalam hutan. Di hutan itulah mereka hidup seadanya. Kadang-kadang mereka turun ke desa untuk mencuri makanan.
Pada Agustus 1945, Onoda dan kawan-kawan menerima pesan dari penduduk desa bahwa perang telah usai. Berulang kali pesawat Amerika menabur selebaran yang memerintahkan para serdadu Jepang keluar dari persembunyian mereka karena perang telah usai.
Onoda dan kawan-kawannya tidak mau percaya begitu saja. Mereka menduga itu hanyalah taktik licik Amerika untuk memaksa mereka keluar.
Satu per satu rekan Onoda akhirnya menyerah atau meninggal. Bahkan pada tahun 1953, mereka tinggal tersisa dua orang, Onoda dan Kozuka. Keduanya bertahan hidup bertahun-tahun di pulau tersebut, menolak untuk menyerah. Hingga akhirnya pada Oktober 1972, sembilan belas tahun kemudian, Kozuka tewas ditembak polisi Filipina ketika sedang mencuri makanan.
Berita tewasnya Kozuka disampaikan ke Jepang. Pemerintah Jepang pun menduga bahwa masih ada beberapa serdadu Jepang yang bersembunyi di pulau tersebut. Tim pencari pun dikerahkan namun mereka tidak berhasil menemukan Onoda.
The End of The War
Seorang mahasiswa Jepang bernama Norio Suzuki terobsesi dengan cerita tersebut. Maka pada tahun 1974 dia pun memutuskan seorang diri berangkat ke Pulau Lubang untuk mencari serdadu Jepang yang tersisa.
Suzuki berhasil bertemu dengan Onoda dan membujuknya pulang ke Jepang. Namun Onoda terus menolak. Dengan alasan dia hanya mau menyerah apabila diperintahkan oleh sang komandan.
Dua minggu kemudian Suzuki kembali ke Pulau Lubang bersama Mayor Taniguchi, salah seorang perwira tinggi Jepang pada Perang Dunia II. Pada waktu itu, Mayor Taniguchi sudah alih profesi menjadi seorang pedagang buku. Lewat pengeras suara, Taniguchi menyerukan kepada Onoda untuk segera menyerah karena Jepang sudah kalah perang.
Dengan berpakaian lengkap, Onoda mengakhiri pertempuran selama hampir 30 tahun.
Bayangkan saja. Ketika tahun 1945 hingga 1972, dunia sudah banyak berubah. Revolusi terjadi di Indonesia, perang terjadi antara Amerika dan Vietnam, India meraih kemerdekaan, negara Israel didirikan, Jepang berubah menjadi negara maju… sementara itu… di sebuah pulau kecil di Filipina masih ada satu orang yang percaya kalau Perang Dunia II masih berlangsung! What da heck?
Lantas bagaimana akhir kisah Onoda?
Onoda kembali ke Jepang namun dia terkejut melihat kemajuan Jepang. Terlalu banyak yang berubah. Dia tidak mampu beradaptasi dengan kehidupan di negaranya hingga akhirnya dia pun memutuskan pindah ke Brazil untuk mengurus sebuah peternakan kuda.
Repotnya orang seperti Onoda tidak hanya satu. Masih ada dua serdadu lain bernama Shoichi Yokoi yang bersembunyi di Pulau Guam dan Teruo Nakamura yang bertempur di Pulau Morotai, Indonesia, hingga tahun 1974! Bedanya Nakamura ditangkap oleh pasukan Indonesia dan dia pun meninggal di Taiwan lima tahun kemudian karena kanker paru-paru.
Nice story. Bagaimana menurut anda?
Referensi :
- Hiroo Onoda - Wikipedia, the free encyclopedia
- Useless Information : Hey! The War Is Over!
- BBC - History - Japan: No Surrender in World War Two
- From Hiroo Onoda’s Book - The Japan Times Online





Gila.
Kalo banyak pasukan Jepang yang bermental seperti itu, lalu knapa mereka bisa kalah Perang Dunia 2 yach?
@Imam
karena keduluan dibom atom.
a ah jepun.
masih sedikit jengah jika melihat kenyataan banyaknya wanita2 yang dulu “dipakai” begitu saja oleh tentara2nya
@easy
yah. soal ‘jugun ianfu’, sampai sekarang Cina pun belum memaafkan Jepang terkait pembantaian di Nanjing. Indonesia juga masih ada hard-feeling…