Malam kemarin di Prambanan Ekspres. Seorang lelaki paruh baya dengan kruk naik ke gerbong yang sudah penuh. Dia nampak kesulitan untuk mengangkat tubuhnya. Setelah hampir tiga menit dia berjuang, akhirnya saya sendiri yang berdiri dan membantu dia naik.

Saya bukan mau nyombong soal itu. Ada hal lain yang jauh lebih mengusik pikiran saya. Saat itu ada lebih dari 60 orang di sana, namun mengapa tidak seorang pun menolong bapak tadi? Apakah memang ini kultur perkotaan yang serba cuek? Rasanya bukan. Kali ini saya akan bercerita soal sindrom yang disebut dengan istilah Bystander Apathy (Darley, 1968).


Rasa Tanggung Jawab

Bila peristiwa tadi terjadi di Jakarta mungkin tidak aneh. Namun karena terjadi di Solo, ini rasanya agak keterlaluan. Hasil pencarian di internet mengantar saya kepada peristiwa ini :

Pada Maret 1964, seorang wanita muda bernama Kitty Genovese diperkosa dan dihabisi di tengah jalan raya pada pukul tiga pagi. Sebanyak 38 orang menyaksikan peristiwa tersebut dari jendela rumah masing-masing dan mereka tidak melakukan apapun. Pembantaian tadi berlangsung selama setengah jam, sebelum akhirnya salah satu di antara mereka menelepon polisi.

Tertarik dengan kejadian tadi, Darley dan Latane melakukan eksperimen. Seorang subjek ditaruh di sebuah ruang kaca kedap suara. Dia berbicara dengan instruktur melalui intercom. Kemudian sang instruktur akan berpura-pura mengalami epilepsi.

  1. Ketika subjek sendirian, sebanyak 70% subjek spontan memberikan pertolongan.
  2. Ketika subjek diletakkan bersama beberapa orang dalam satu ruangan. Eksperimen yang sama diulang. Ternyata hanya pada 7% eksperimen saja yang sang korban mendapatkan pertolongan dalam tiga menit pertama. Angkanya turun drastis.

Lebih detail tentang eksperimen tersebut dapat anda baca di sini.

Subjek mungkin berpikir "Ada 10 orang di sini, kenapa harus saya?", "Jika orang lain diam, maka saya juga tidak akan melakukan apapun.", atau "Ada banyak orang di sini. Ntar toh pasti ada yang menolong." Karena semua orang berpikiran sama, maka tidak seorang pun bertindak!

Artinya, semakin banyak orang yang ada di tempat tersebut, maka semakin rendah rasa tanggung jawab masing-masing individu. Sebaliknya, semakin sedikit orang yang ada di sana maka justru semakin besar rasa tanggung jawab masing-masing individu.

Metode Penangkalan

Meskipun demikian, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keputusan khalayak. Misalnya seberapa besar resiko yang harus mereka ambil atau seberapa gawat keadaan saat itu.

Meskipun tidak bisa dianggap 100% valid, eksperimen ini mengandung banyak kebenaran. Saya yakin, orang yang sudah mengetahui eksperimen ini tentu akan lebih berinisiatif untuk memberi pertolongan pada situasi darurat di keramaian. Termasuk anda nantinya.

Namun bagaimana jika kita berposisi sebagai korban? Karena masalahnya adalah difusi tanggung jawab, maka cara terbaik adalah bebankan tanggung jawab ke satu orang. Ya. Tunjuk saja salah satu orang yang kelihatan bisa diandalkan, kemudian teriak ke dia : "Kamu! Ya, kamu yang pakai baju pink-belang-kuning, gendut jelek, dan makan lolly pop! Cepat telepon polisi!"

"By far the most dangerous foe we have to fight is apathy - indifference from whatever cause, not from a lack of knowledge, but from carelessness, from absorption in other pursuits, from a contempt bred of self satisfaction."
- William Osler -

Intinya, di dalam kelompok besar manusia cenderung memandang remeh aksi individu.

Terkadang kita tidak menyadari bahwa aksi kecil kita adalah bagian dari hal besar. Mungkin orang Bandung yang buang sampah sembarangan juga berpikir "Ah, ini kan cuma sampah kecil. Masa sih bisa mengotori kota?" Karena semua mikir seperti itu, kota pun jadi penuh sampah!

Kategori: Social | Interesting
 

Ada 2 Komentar | Tambahkan Komentar

  1. Kayaknya ini salah satu sebab, kenapa kalo dosen nanya di kelas kagak ada yang jawab…hihihihi

     
    Gravatar Image

    — August 25, 2008 :: 9:32 pm

  2. @Ario
    ditanya “siapa yang bisa?” sama “siapa yang ga bisa?” tetep aja dua-duanya ga ada yang jawab. aneh…

     
    Gravatar Image

    — August 26, 2008 :: 10:20 pm

 



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.