Disangka ke Jogja, malah nyasar ke Purworejo. Ini adalah minggu kedua Gladi Institut Teknologi Telkom. Kebetulan saya bertugas di Kandatel Jogjakarta, meskipun kemudian saya ditempatkan di Kancatel Purworejo, sekitar 60 kilometer dari kota Jogjakarta.

Bekerja di kota semenjana (tidak begitu kecil namun juga bukan kota besar) memberikan sensasi yang cukup unik. Mulai dari akses transportasi yang kurang memadai, biaya hidup yang murah meriah, udara yang masih bersih, masyarakat yang ramah dan bersahabat, hingga kelangkaan tempat hiburan. Perjalanan ini menyisakan sejumlah kisah seru.
Penanganan Gangguan
Seorang teman yang kuliah di Fakultas Kedokteran pernah berkelakar bahwa dokter itu profesi yang paling menyedihkan, sebab setiap harinya dokter selalu mendengarkan keluhan. Mungkin dia tidak tahu bahwa di PT Telkom juga ada divisi penanganan gangguan telepon. Tak ubahnya dokter yang melayani pasien, divisi ini menerima keluhan dari para pelanggan Telkom.
Di situlah saya berada selama satu minggu kemarin.
Menyebalkan? Untungnya tidak. Orang Jawa terkenal sabar dan santun. Bahkan sewaktu komplain pun mereka menggunakan Krama Inggil (Bahasa Jawa halus). Itu masih ditambah pula dengan suguhan makanan dan minuman setiap kali petugas Telkom datang ke rumah mereka.
Tak semua kasus gangguan itu rumit. Biasanya justru sederhana.
Perlakuan seperti ini nampaknya tidak akan didapatkan oleh para peserta gladi di luar Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Menariknya, tak semua kasus gangguan itu rumit. Biasanya justru sederhana. Bahkan banyak yang berupa permohonan pelanggan, misalnya ada seorang kakek yang berniat memindahkan telepon ke ruangan lain di rumahnya. Kami jauh-jauh ke sana sekedar untuk memanjangkan kabel. Memang sepele namun pada era persaingan bisnis seperti ini, pelanggan harus mendapatkan service yang terbaik.
Reparasi di Pasar Buah
Pernah pula kami harus ke pusat kota untuk membenahi sambungan telepon pelanggan. Ternyata masalah bukan terletak pada sisi pelanggan dan bukan pula pada sisi sentral (di dalam informatika mirip dengan konsep client-side dan server-side). Artinya masalah ada pada medium.
Pemeriksaan Distribution Point dan kabel udara tidak membuahkan hasil.

Dengan demikian sasaran pemeriksaan berikutnya adalah Rumah Kabel. Uniknya, pada area ini kotak Rumah Kabel terletak di tengah-tengah pasar buah dan tertimbun buah-buahan!
Setelah menyingkirkan beberapa kardus belimbing dan apel dari atasnya, kami pun melakukan proses bongkar pasang di tengah keramaian pasar.
Pak Tri memimpin proses reparasi sementara kami membantunya. Sayang kondisi kotak tersebut cukup memprihatinkan. Tongkat pengukur yang seharusnya ada di sana pun sudah terlepas dari tempatnya. Kami terpaksa melakukan perhitungan secara manual. Belum lagi debunya yang amat tebal agak mengganggu proses pengujian.

Akhirnya dalam waktu setengah jam, gangguan itu berhasil diatasi. Kami pun kembali ke Telkom untuk menunggu panggilan berikutnya.
Pada waktu luang kami belajar cara mengupas dan menyambung kabel (kabel telepon ternyata sangat sukar dikupas), mendalami berbagai teori tentang telepon, atau menulis posting blog seperti ini.
Meskipun hidup di tengah keluhan, para karyawan nampak menikmati pekerjaan mereka. Mungkin inilah paradoks kehidupan. Mungkin juga alasan yang sama bisa menjelaskan mengapa saya yang jarang makan banyak di kota ini justru bertambah gemuk tiga kilo.





pantes kemaren takon2 pordjo, meh ditempatkan disana to?
oleh2 yo kang, aku kan ra mudik :-)
@Way
Masalahe aku mung ngerti Roti Bagelen thok.
Dudune kui omahmu dw? Mosok njaluk oleh2 soko omahmu dw.
ouw, itu ya mas fotonya pas nyambung kabel telepon..
geladi malah foto2 terus nih =P
@tia
soalnya segala sesuatu harus ada dokumentasinya
wah…podho wae mas….seng sabar ya, knalkan aku yudha dari catel sidoarjo, sbnrnya diTELKOM itu uuuwenak mas tapi Klo pelanggannya ngomel2 jadi gak karuan…..lha wong namanya kerja ya mas apa lagi di pusat pelayanan wah…wah…, di bikin enjoy aja….gmn di sana mas Speedy da masuk tah? bls di gustavmail@telkom.net
@yudha
ya, Speedy baru beberapa bulan masuk situ.
tapi sekarang saya sudah tidak di Kancatel Purworejo.
wah… artikel tua gini masih ada yang komentar