Tulisan ini panjang. Bukan relatif panjang, namun benar-benar panjang. Intinya saya hanya ingin merangkum diary setebal 365 halaman menjadi satu artikel. Justru aneh jika tidak panjang. Selalu ada sensasi berbeda ketika kita melakukan flashback.

Membuka catatan tentang apa yang sudah kita lakukan selama satu tahun. Mulai dari petualangan, perjalanan, proyek, kumpul-kumpul, hingga kompetisi. Kadang ada sedikit penyesalan karena ada hal-hal yang mengganjal. Namun sering pula rasa puas karena melewatkan setahun penuh dengan pengalaman berharga. Atau barangkali anda mau baca narasi saya?
Yang bagus biasanya ditaruh paling akhir. Tetapi bukan berarti ini artikel yang bagus kalau baru dipublikasikan mepet deadline. Namun karena memang bulan ini saya lebih banyak berada di Solo sehingga jarang ada kesempatan untuk menulis.

Saya baru kembali ke Bandung dua hari yang lalu. Banyak pekerjaan yang menumpuk, meskipun seharusnya akhir tahun adalah masa-masa liburan. Lagipula saya sedang menulis sebuah e-book yang seharusnya selesai di akhir bulan depan. Jadilah bulan Desember ini dan Januari nanti satu rangkaian yang tidak terpisahkan.
Pagi itu masih gelap ketika saya terbangun. Saya melangkah dengan ringan keluar kamar sembari menghirup udara pagi yang dingin. Dendang lirih With or Without You milik U2 mengiringi aktivitas pembuka hari itu : bercukur dan menyikat gigi.

Lagu yang demikian bersemangat, namun ringan dan lambat. Ada sensasi yang berbeda di tengah dunia yang serba cepat. Suara berat Bono yang penuh penghayatan memecah hening. Sementara saya mencabut sepasang push-up bar, titik-titik embun subuh menetes membasahi jendela kamar dengan perlahan. Terbersit sebuah ajakan untuk bergerak lebih lambat.
Namanya Harun Yahya. Dia banyak berkutat di bidang kosmologi Islam. Salah satu pandangannya yang paling tersohor adalah penolakan terhadap Teori Evolusi. Buku-bukunya pun didesain sangat bagus dan ringan untuk dibaca. Belum lagi harganya relatif murah.

Ketika buku-buku tadi masuk ke Indonesia sekitar lima tahun yang lalu, saya pikir karyanya akan cepat terabaikan. Namun prediksi saya luput. Tulisan Harun Yahya yang agak tendensius terhadap Teori Evolusi itu ternyata diminati khalayak. Meski beliau bukan ilmuwan, banyak kaum terpelajar di seantero nusantara ini yang mengiyakan tulisan-tulisannya.
November adalah bulan yang sibuk. Saya harus mengumpulkan proposal Tugas Akhir, melakukan presentasi kerja praktek, dan menjadi pembicara dalam waktu yang mepet. Belum lagi saya harus berbagi tanggung jawab untuk proses rekruitasi Programming Club.

Namun blogging tentunya jalan terus. Tak terkecuali postingan rutin yang satu ini, yang notabene saya tulis pada pukul tiga pagi. Tidak banyak yang mampu saya bagikan kali ini. Hanya dua puluh serpih pemikiran. Mau tahu apa saja yang ada di benak saya sepanjang awal bulan ini? Berikut ini adalah jatah untuk bulan November.
Ayam goreng bukan masalah remeh. Setidaknya itu pelajaran yang saya dapatkan ketika googling resep ayam goreng KFC malam tadi. Tentu anda tidak asing dengan istilah original recipe. Namun siapa sangka resep rahasia itu berada di bawah pengamanan yang luar biasa.

Kisah Kentucky Fried Chicken (KFC) berawal dari tahun 1930-an. Saat itu Kolonel Harland Sanders menjajakan ayam goreng buatannya pada lokasi pom bensin di North Corbin, Kentucky. Di tengah Great Depression yang melanda dunia Barat, produk tersebut sukses besar. Salah satu komponen penting dari kesuksesan KFC adalah resep rahasia yang bertahan hingga kini.
Roda internet berputar dengan sangat kencang. Kalimat tweet anda sepuluh menit yang lalu sudah masuk kategori old post. Itu baru sepuluh menit. Bagaimana jika sepuluh tahun? Sampah berusia sepuluh tahun di cyberspace tak ayal sudah layak masuk museum purbakala.

Pada tanggal 26 Oktober 2009, Yahoo! resmi menutup service Geocities. Timbunan kenangan saya dan jutaan pengguna internet awal ikut terkubur bersamanya. Bukan masalah apakah anda juga pernah mempunyai kenangan bersama Geocities atau tidak. Tulisan saya kali ini toh tak lebih dari sekedar flashback dan nostalgia.







