Gugus-gugus awan di Bengkulu terasa begitu dekat seakan hendak runtuh dari langit. Deru ombak menemani langkah-langkah kecil saya menyusuri jalanan senyap di Malabro, sementara matahari masih malu-malu menampakkan diri dari balik dinding benteng yang berlumut.

Hanya butuh seminggu perencanaan sebelum saya memutuskan berkunjung ke kota ini. Bengkulu boleh dibilang merupakan ibukota provinsi paling sunyi di Pulau Andalas. Meskipun pernah menjadi sentra pertahanan Inggris di Asia, bumi Rafflesia jauh dari kesan keramaian. Berikut catatan saya mencumbu pesona wisata yang tersembunyi di balik nuansa senyap kota bersejarah ini.
Enjoy Jakarta at it’s best! Demikian isi pesan singkat yang saya terima malam tadi. Jakarta dalam kondisi terbaiknya, sepi dan tenang, adalah pada saat libur lebaran. Kebetulan saya sempat mudik ke Solo usai penjelajahan Bengkulu kemarin. Jadilah liburan ini saya berada di Jakarta.

Berdiam di Jakarta nanti berarti saya mempunyai banyak waktu luang. Kemungkinan besar waktu tersebut akan saya gunakan untuk menyusun sebuah technical book sembari sesekali melakukan update ke blog ini. Inilah update pertama saya di blog ini sebagai penanda untuk membuka masa menikmati Jakarta at its best. Enjoy!
Menatap samudera yang terpapar di kakinya, ada eksotisme yang tidak terbantahkan. Namun bagi dua puluh serdadu Britania yang ditugaskan di benteng tersebut dua abad silam, dataran itu begitu senyap dan sedih. Tak ayal, mereka perlahan larut dalam candu dan minuman keras.

“Sungguh ajaib Tuan-Tuan sanggup bertahan hidup enam bulan di tempat seperti ini,” ucap utusan Kerajaan Inggris ketika singgah di Bengkulu. Matanya menatap puluhan serdadu yang mabuk dan penyakitan bergeletakan di sudut-sudut benteng. Kota kecil itu dijepit oleh lautan Hindia dan rimba belantara Sumatera, begitu terpencil dan jauh dari peradaban.
Entah salah siapa Dagostraat kini lebih tenar karena kesemrawutannya. Padahal apabila anda mau menyusuri jalanan yang sesungguhnya tersemat nama Ir. Juanda itu, pada dataran kulminasinya dapat anda temukan kawasan hutan Dago Pakar yang masih asri.

Ada cerita tentang dendang lembut burung-burung hutan sore itu. Sementara kerisak daun dilatari oleh gemericik air yang menyasar sesela bebatuan Sungai Cikawari senantiasa menenggelamkan konsentrasi saya. Dengan sisa-sisa antusiasme yang bergolak, saya menyeret langkah membelah Gunung Masigit sambil sesekali membidikkan kamera. Ada cerita sore itu.
Semakin lama pemikiran dangkal semakin sulit didapatkan. Entah karena pemikiran saya semakin mendalam atau karena sekarang saya sudah jarang mikir. Bisa juga karena kehidupan ala Jakarta yang bagai terkurung di lautan manusia membuat lanturan saya jadi jinak.

Sudah lima bulan sejak terakhir kali saya menulis catatan yang bergaya literatur Jalaluddin Rumi seperti ini, tulisan yang meski cuma sepotong-sepotong tetapi punya esensi filosofis. Semoga saja insting berfilosofi saya belum sepenuhnya hilang. Berikut ini adalah dua puluh biji lanturan singkat untuk periode bulan Juli 2011.
Angkanya pasti di bawah sepuluh derajat. Lebih tinggi dari itu tidak akan cukup untuk menjelaskan bagaimana udara dingin bisa menembus tiga lapis pakaian saya. Pada ketinggian 7000 kaki di atas permukaan laut, lensa kamera saya antusias menyambut terbitnya matahari.

Sekejap kemudian, pemandangan kebun teh di sekitar saya menjadi berkilauan. Cahaya matahari dipantulkan oleh titik-titik embun yang membasahi permukaan daun teh. Fotografer menyebutnya magic moment, peristiwa yang jarang terjadi dan durasinya cenderung sangat singkat. Jika sudah begini, siapa mau bilang kebun teh hanya menghasilkan teh?
Tatkala langit perlahan-lahan kehabisan semburat jingganya, pendar warna-warni pulau Malaka ini terpercik beriringan seakan menggantikan. Denyut nadi Batam memang berdentum usai matahari tenggelam, kelakar juru mudi sesaat sebelum kami merapat ke Lubuk Baja malam itu.

Saya tidak kuasa melepaskan pandangan dari kelap-kelip lampu kota nun jauh di sana, sementara taksi menelisik jalan raya nan riuh di latar perbukitan. Lima puluh menit tandas bermobil dari Hang Nadim hingga Nagoya, lima puluh menit sorot lampu silih berganti menyilaukan mata. Genggaman saya tidak pernah lepas dari beberapa helai kertas pekerjaan, tidak terbaca.
Bergegaslah engkau dan jangan menoleh ke belakang. Lelaki renta itu mengikuti langkah malaikat menuju pucuk bukit. Diajak sertalah keluarganya, termasuk istrinya yang berat hati dan tak kuasa menoleh meratapi kenangan kota kelahirannya. Tuhan murka dan membunuh wanita itu.

Demikianlah skriptur Taurat menguraikan kisah sang wanita tanpa nama. Istri Nabi Luth, hanya itu identitas yang tersisa darinya. Wanita itu mati karena mengabaikan titah Tuhan yang melarangnya menoleh ke belakang. Kisah tadi hanyalah satu fragmen kecil dari narasi bencana paling masyhur dalam ajaran samawi, Sodom dan Gomora. Sebuah bencana masif akibat dosa.
Menulis itu lama. Takaran saya, frappucinno ukuran venti di depan laptop sudah habis sejam yang lalu. Namun apa boleh buat, kepalang tanggung sudah dapat setengah jalan. Toh uang lima puluh ribu untuk pungutan kopi sejatinya juga ikut meng-cover biaya sewa meja kursi.

Bicara soal blog ini, jujur saja, bisa dibilang sudah tidak ada yang mutakhir. Apabila bukan karena request dari orang ini, mungkin saya tidak akan meluangkan waktu untuk menulis. Terlebih beban pekerjaan saya di Microsoft pun sudah mulai menumpuk. Kembali ke arena, berikut satu kodi poin kecil pemikiran dangkal untuk bulan ini.
An unspoiled Bali, some might say. In fact, several trips to Lombok tend to exceed my expectation about the so-called island. Recently I got to know a girl named Viny from Mataram. With her aid, I managed to compile this list of things to do while you are visiting West Nusa Tenggara.

Lombok is regarded as the lesser-known neighbour of Bali. The island is just one quick hop away from Ngurah Rai International Airport. But if you are traveling on a shoestring, you might consider a less-costly alternative, a four-hour horrid ferry ride from Padangbai Harbour to Lembar Harbour that costs only USD 3.50. Once you reach Lombok, here are list of things you can enjoy.




