"Lagi nyari kodok!" jawab anak kecil itu ketus. Tidak lama kemudian dia kembali membawa hewan yang dia cari-cari. "Lho?" tanya temannya sebal, "Tadi katanya kamu mau bawa kodok, kok kamu sekarang malah bawa katak?"

Jika adegan tadi terjadi, bukan tidak mungkin api pertengkaran akan terpercik. Andai masalahnya besar, bisa jotosan. Dalam situasi seperti itu kamus biologi yang membahas perkodokan mungkin bisa agak membantu. Namun siapa sangka masalah linguistik bisa jadi pelik? Atau jangan-jangan anda sendiri belum ngeh kalau kodok dan katak itu ternyata berbeda?
Hawa dingin sukses membujuk saya untuk merapatkan jaket sebatas dagu. Bukanlah tanpa alasan apabila pada pagi-pagi buta saya harus stand-by di stasiun. Terlambat lima belas menit, kereta api ekspres Lodaya akhirnya tiba; mengantar keluarga saya dari Solo.

"Aston! Braga…". Instruksi singkat itu pun diiyakan oleh sopir taksi yang langsung membawa kami berlima menyusuri jalan berkabut. Kurang dari sepuluh menit, kami sudah tiba di pelataran Hotel Aston Bandung. Dua orang bellboy tersenyum ramah membantu membawakan travel bag. Lokasi strategis yang dekat dengan stasiun adalah salah satu alasan kami tertarik pada hotel ini.
Berkat Amel, si anak bangsa yang gemar berceloteh, saya berkesempatan mengikuti kopdar (kopi darat) bersama skuad Batagor. Acara yang diikuti oleh lebih dari selusin blogger Bandung kemarin itu diadakan di kafe Derisol, Citarum.

Memang cerewet dari sono-nya, saya langsung nyambung dengan anak-anak Batagor. Tak sia-sia saya datang karena saya bertemu banyak kawan baru. Sesuai tradisi bangsa, acara yang digelar pukul lima sore itu baru dimulai pada pukul tujuh malam. Meskipun demikian, kesan pertama yang ‘kurang baik’ itu tertutup oleh kekompakan anggota yang berasal dari berbagai kalangan.
Sejak pertama digulirkan, sudah 5 juta pengguna Facebook ikut serta dalam menulis 25 Random Facts About Me. Berarti sudah ada 125 juta fakta yang dibuka untuk konsumsi publik. "It is just a harmless internet meme", kata teman yang meminta saya juga melakukannya.

Meskipun demikian, saya bukan orang yang senang membicarakan isi hati saya ke publik. Apalagi menyangkut kehidupan saya sekarang. Sebagai gantinya, tanpa mengurangi respek, saya menulis 25 Fakta Masa Kecil Saya di blog ini. Saya pikir ini bisa menjadi substitusi yang sepadan, harmless enough, dan tetap menarik untuk dibaca. Enjoy!
Orang Latin mengenal istilah homo ludens. Artinya, manusia adalah makhluk bermain. Siapa yang tidak kenal sepakbola. Permainan dari Romawi yang kemudian distandarisasi orang Inggris. Boleh jadi tidak ada permainan lain yang bisa diadu popularitas dan prestise-nya.

Demi menyaksikan duel raja Inggris, Manchester United, melawan jawara Italia, Inter Milan, saya pun bela-belain nonton bareng jam dua pagi di MU Cafe, Paris van Java. Dengan harapan nantinya Manchester United meraih kemenangan, saya sudah stand-by di sana sejak pukul 01.00 bersama seorang teman. Mau tahu nuansanya?
Narsis tidak selalu membanggakan diri sendiri. Salah satu model narsisme paling mutakhir adalah narsisme yang membanggakan orang lain. Contoh nyatanya ya postingan ini. Nama saya Wirawan Winarto, biasanya saya populer dengan inisial WW.

Inisial WW boleh dibilang cukup unik. Banyak nama panggilan yang disematkan ke saya terkait dengan inisial tersebut, mulai dari W-o-W, W-kuadrat, hingga Double-W, dan sebagainya. Selain unik, pemilik inisial WW nampaknya ditakdirkan untuk menjadi tokoh besar dunia. Kini saatnya kita menilik kisah sukses para WW dari seantero dunia.
Seiring dengan masa transisi, blog ini menjadi kurang terawat. Mulai hari ini, saya sudah kembali menulis seperti biasa. Targetnya adalah dua tulisan per minggu. Tulisan ini menjadi seri berikut dari pelajaran hidup yang saya peroleh sepanjang bulan Februari 2009.

Dua hari yang lalu saya baru saja menyelesaikan bimbingan tahap satu bagi calon representatif IT Telkom di kompetisi nasional. Ada sekitar 15 tim, atau sekitar 60 orang, yang harus saya tangani bersama dengan Leonardi. Sekarang saatnya melepas tekanan itu, sudah waktunya saya kembali mencurahkan sejumlah pemikiran. Pemikiran dangkal.
Percaya tidak percaya, tak semua orang menganggap pengembangan diri itu baik. Komentar dari seorang teman sempat membuat saya berpikir. Ucapnya, "Ngapain harus susah-susah memasang target ini dan itu? Hidup itu mengalir. Just enjoy your life and be yourself!"

Konflik antara pengembangan diri dan penerimaan diri sekilas terdengar dungu. Namun begitulah kenyataannya. Ini adalah suatu realita yang selama ini bahkan tidak terpikirkan oleh saya. Malam tadi saya mencoba untuk menggali lebih dalam kedua konsep ini. Manakah yang lebih baik antara menerima diri apa adanya dan mengembangkan diri? Bisakah keduanya selaras?
Selama jawabannya benar, siapa peduli apabila pertanyaannya salah? Review ini terlambat relatif lama gara-gara sejumlah masalah pribadi menguras waktu saya. Saya tetap menulis seperti biasa walaupun beberapa tulisan harus dituntaskan dengan cara dirapel seperti kemarin.

Yang unik akibat masalah tersebut, selama dua bulan belakangan ini saya menghindari buku-buku berbau teknis. Saya lebih banyak terjun dalam buku-buku self-help dan kisah-kisah inspiratif yang ringan untuk dibaca tiap hari. Salah satunya adalah buku horor berjubah sejarah karya almarhum Pramoedya Ananta Toer, bertajuk : Jalan Raya Pos, Jalan Daendels.










